Jumat, 30 Maret 2012

TANAM GAHARU sampai Panen

BUDI DAYA GAHARU dari penanamam sampai panen
UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI GAHARU ASLI KALIMANTAN SEAMEO BIOTROP BOGOR GAHARU Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp. (BSN, 1999). Pada perdagangan internasional gaharu dikenal dengan sebutan agarwood, aloe wood, dan eagle wood, oud (Timur tengah), dan Cing (Cina). Gaharu merupakan produk hutan bukan-kayu yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, sehingga berperan dalam menyumbang sumber pendapatan devisa Negara. Harga per kg gaharu mutu super dapat mencapai sekitar Rp.15 juta/kg (ASGARIN, 2005). Bahkan saat ini, harga gaharu untuk mutu super di pasar lokal saja bisa mencapai Rp. 30 juta per kg, sedangkan harga minyak gaharu mencapai US$ 98 per sepuluh milliliter. Hasil survey Yamada 1995 menunjukkan bahwa sebanyak 2000 ton/tahun gaharu asal Indonesia memenuhi pusat perdagangan gaharu dunia di Singapura. Yamada juga menjelaskan bahwa dari seluruh gaharu yang diperdagangkan di dunia sebanyak 70% berasal dari Indonesia dan sisanya 30% dari negara-negara Asia Selatan lainnya. Tingginya harga gaharu ini disebabkan karena gaharu khususnya kualitas atas (Super, AB, BC) merupakan kebutuhan pokok baik untuk acara ritual ke agamaan maupun untuk wangi-wangian di negara-negara Timur Tengah. Sebesar 90% ekspor gaharu ditujukan ke negara- negara di Timur Tengah sedangkan untuk kelas menengah kebawah kenegara-negara Asia seperti Taiwan, Cina, Korea, dan Jepang, yang digunakan untuk produksi minyak dan acara -acara ritual dalam bentuk Hio (ASGARIN, 2005). Perdagangan dan pemanfaatan gaharu lainnya berdasarkan data ekspor adalah untuk bahan baku industri kosmetika seperti parfum, minyak, sabun, lotions, pembersih muka serta obat-obatan seperti obat hepatitis, liver, antialergi, obat batuk, penenang sakit perut, rhematik, malaria, asma, TBC, kanker, tonikum, dan aroma terapi (Boruah & Singh 2000). Substansi aromatik yang terkandung dalam gaharu termasuk dalam golongan sesquiterpena. Sesquiterpena yang dihasilkan pada gaharu memiliki struktur kimia yang sangat spesifik sehingga sampai saat ini belum bisa dibuat secara sintetis. Nakanishi, et.al. 1981 dan Ishihara et.al. 1991 menyatakan bahwa beberapa macam zat penting yang terkandung dalam gubal gaharu adalah b-Agarofuran, a- Agarofuran, Nor-ketoagarofuran, (-)-10-Epi-y-eudesmol, Agarospirol, Jinkohol, Jinkohol-eremol, Kusunol, Dihydrokaranone, Jinkohol II dan Oxo-agarospirol. Sesquiterpena adalah salah satu metabolit sekunder golongan terpena yang mengandung 15 atom karbon dalam bentuk tiga unit fusi C5. Biosintesis terpena dihasilkan dari Acetyl CoA melalui siklus asam mevalonik. Terpena berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, misalnya sesquiterpena, merupakan prekursor terhadap biosintesis asam absisik. Sesquiterpena juga berfungsi sebagai materi pertahanan (toksin) terhadap cendawan, dan bakteri serta menghasilkan aroma wangi sehingga dikenal sebagai sesquiterpena aromatic (Taiz, et al., 1991). Pada umumnya setiap tanaman menghasilkan sesquiterpena aromatik yang berbeda-beda. Pada kapas dihasilkan sesquiterpena aromatik yang dikenal sebagai "gossipol" (Picman 1986), sedangkan pada gaharu dikenal sebagai "jinkohol" (Nakanishi et al., 1981). Perbedaan kualitas dan harga gubal gaharu tergantung pada kandungan sesquiterpena baik persentasinya maupun jenis komponennya (Ishihara et al., 1991). Hasil analisis Yoneda et al., (1984) menunjukkan bahwa sesquiterpena yang dihasilkan pada A. malaccensis lebih lengkap dan mengandung agarospirol serta jinkohol yang lebih tinggi dibanding A. agallocha asal India. Analisis senyawa gaharu secara kualitatif dengan teknik kromatografi gas cair (GLC) di laboratorium BIOTROP menunjukkan bahwa tingkat wangi dan jumlah komponen kimia yang terbentuk pada A. malaccensis lebih tinggi daripada A. microcarpa dan A.crassna serta A. filaria (Rahayu, dkk., 2003). KLASIFIKASI GAHARU GAMBAR Klasifikasi gaharu dilakukan berdasarkan kelas, mutu dan spesifikasi berdasarkan kemauan konsumen didalam Negeri dan Luar Negeri maka, klasifikasi itu digunakan dengan tujuan untuk melakukan pemisahan dalam bentuk Chips / Serpihan, bentuk Teri, Kacang, dan Abuk. Klasifikasi tersebut dapat dilakukan antara lain: Abuk gaharu terdiri dari : Kemedangan terdiri dari : Gubal gaharu terdiri dari : Abuk gaharu Super, Abuk gaharu kemedangan A, Kacang, Abuk gaharu kemedangan TGC Kemedangan A, B, C, TGC, (BC), Kemedangan Putih, Teri Kacang (terapung). Double Super, Super A, Super B, Kacang, Teri A, Teri B, dan dan Sabah (tenggelam). IDENTIFIKASI MUTU Identifikasi mutu/kualitas gaharu sampai saat ini masih bersifat konvensional dan yaitu berdasarkan warna, aroma, dan bentuk. Setiap pengusaha lokal memilki keahlian khusus untuk melakukan sortiran terhadap klasifikasi maupun spesifikasi gaharu dan kemedangan. Prosedur klasifikasi gaharu dilakukan dengan prosedur sbb: a) Pertama-tama gaharu dituangkan secara hamparan pada lantai sehingga memudahkan untuk sortir berdasarkan klasifikasi. b) Petugas sortir dengan modal pengalaman minimal 5 tahun, mengambil posisi duduk pada hamparan gaharu kemudian dengan kepekaan mata serta kecepatan tangan melakukan identifikasi berdasarkan mutu dan kelas gaharu tersebut GAMBAR c) Sebagai seorang yang bertugas sortir gaharu berdasarkan pengamatan jenis dan identifikasi sering mengalami kendala didalam menentukan jenis dikaitkan dengan klasifikasi maupun pada tingkat penentuan spesifikasi gaharu. d) Hal ini disebabkan dalam satu potong gaharu baik berupa Chips maupun batangan bisa menemukan dua jenis dari spesifikasi lainnya sehingga pada tahap berikutnya harus dilakukan pemisahan kembali oleh orang lain yang mempunyai ahli menentukan kelas gaharu. e) Gubal gaharu dan kemedangan yang telah diproses selanjutnya dijemur untuk mengurangi dan menghilangkan kadar air pada masing-masing tempat yang berbeda antara lai GAMBAR Gubal gaharu dijemur dalam ruangan Yang terbuka, tidak langsung kena sinar panas matahari. Kemedangan dan Abuk gaharu dijemur pada pada halaman dengan cara hamparan lantai dan terkena sinar panas matahari. CIRI DAN KHAS MUTU Tabel 1. Persyaratan Mutu dan Gubal Gaharu NO KARAKTERISTIK M U T U DOUBLE SUPER SUPER A SUPER B 1 Bentuk - - - 2 Ukuran - - - 3 Warna Hitam merata Hitam kecokelatan Hitam kecokelatan 4 Kandungan Damar Wangi Tinggi Cukup Sedang 5 Serat Padat Padat Padat 6 Bobot Berat Agak berat Sedang 7 Aroma Agak kuat Kuat Sedang Tabel 2. Persyaratan mutu kemedangan NO KARAKTERSITIK M U T U SA’BAH A B C TGC PUTIH 1 Warna Cokelat kehitaman Cokelat bergaris hitam Cokelat bergaris putih Kecokelatan bergaris putih tipis Kecokelatan bergaris putih lebar Putih keabuan garis hitam tipis 2 Kandungan Damar Wangi Tinggi Cukup Sedang Sedang Sedang Sedang 3 Serat Agak padat Agak padat Agak padat Kurang padat Kurang padat Jarang 4 Bobot Agak berat Agak berat Agak berat Agak berat Ringan Ringan 5 Aroma (dibakar) Agak kuat Agak kuat Agak kuat Agak kuat Kurang kuat Kurang kuat Tabel 3. Persyaratan mutu Abu gaharu untuk gubal dan kemedangan STRUKTUR MUTU FISIK GAHARU Pengambilan gaharu dan kemedangan dari hutan penghasil gaharu pada mulanya dilakukan secara acakan atau campuran sehingga bagi seorang pengusaha harus memiliki karyawan yang mempunyai keahlian dalam melakukan pemisahan baik bentuknya maupun fisik dan aromanya. Pelaksanaan pemisahan itu dilakukan secara kasat mata atau visual dengan lebih mengutamakan warna dan besar kecil gaharu tersebut. Hal tersebut dimaksud agar dalam pembersihan gaharu dapat dikelompokan berdasarkan warna jenis gaharu yang di inginkan. Penetapan jenis kayu gaharu baik gubal maupun kemedangan dapat dilakukan dengan memeriksa ciri khas kayu, dan berat / ringan kayu gaharu dengan cara penimbangan dengan menggunakan satuan Kilo Gram (Kg). CARA PEMISAHAN MUTU Bagi karyawan yang telah memilki dalam cara menilai kayu gaharu baik gubal dan kemedangan selalu berpatokan pada ciri khas kayu gaharu yang meliputi: ukuran, warna, bentuk. serat. bobot dan aroma kayu gaharu yang diuji sedangkan untuk abuk cukup melihat warma dan aroma. Penilaian terhadap ciri khas kandungan gaharu dilakukan dengan cara memotong atau membakar kayu gaharu untuk mengetahui aroma yang dikeluarkan oleh gaharu apakah aroma wangi tersebut kuat atau lemah. JENIS-JENIS POHON GAHARU Gaharu termasuk family Thymelaeaceae yang terdiri atas 4 sub famili: 1) Gonystyloideae (mis. Gonystyllus spp.); 2) Aquilarioideae (mis. Aquilaria spp.); 3) Thymelaeoideae (mis. Enkleia spp. dan Wikstroemia spp.); dan 4) Gilgiodaphnoideae (tidak ditemukan di Malaysia dan Indonesia). Di Indonesia terdapat 11 jenis kayu penghasil gaharu (Hou 1960; Sidiyasa 1986) yakni: 1. Aetoxylon sympetalum (Steen & Airy Show), terdapat di Kalimantan Barat dan Serawak (nama lokal: kayu bidorok, kayu laka, garu buaya, garu laka, melabayan (Kalimantan Barat), dan ramin batu (Serawak). 2. Aquilaria malaccensis Lamk. terdapat di India, Burma, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan dan Filipina (nama lokal: alim (Batak), gaharu, halim (Lampung), karas, mengkaras). 3. Aquilaria hirta Ridley, terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, Riau, Lingga, Nama lokal: karas (Sumatera), kayu chandan (M). 4. Aquilaria microcarpa Baill. terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera (Tapanuli, Palembang, Lampung) pulau Bangka & Belitung dan Kalimantan, Nama lokal: tengkaras (M), hepang (Bangka), karas/sigi-sigi (Dayak). 5. Aquilaria beccariana van Tiegh. terdapat di Sumatera (Palembang), Semenanjung Malaya dan Kalimantan. Nama lokal: Merkaras puti (Sumatera), tanduk/garu (Kalimantan). 6. Aquilaria filaria (Oken) Nerr, terdapat di Filipina, Maluku (Morotai, Ceram dan Ambon) dan Irianjaya (Sorong). Nama lokal: Age (Sorong), bokuin (Morotai), lason (Ceram). 7. Enkleia malaccensis Griff. terdapat di kepulauan Andaman, Burma, Indochina, Sumatera, Kalimantan. Nama lokal: terap akar, termentak akar (Sumatera), akar diau, akar garu (Kalimantan), akar karek hitam, garu buaya (Semenanjung Malaya). 8. Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz, terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, Bangka, Kalimantan, Serawak. Nama lokal: kayu minyak, geronggang, gaharu buaya, pulai miang, lapis kulit (Sumatera), balun kulit (Riau), kayu bulu, garu anteru, menameng (Bangka); medang, medang karau, ramin siriangun (Kalimantan). 9. G. macrophyllus (Miq.) Airy Show, terdapat di kepulauan Nicobar, Semenanjung Malaya, Jawa Barat, Tengah, dan Timur, Nusa Tenggara. Nama lokal: batu raja, garu pinang bae, medang ramuan, sirantik kuning (Sumatera), garu hideung, garu kapas, ki laba (Jawa Barat), garu betul, garu cempaka, garu buaya, medang karu, ramin (Kalimantan), Nio (Talaud),bunta, mengerai, ruwala, udi makiri (Maluku). 10. Wikstroemia polyantha Merr. terdapat di Malaysia, Indonesia, Australia, Melanesia, Polynesia. Nama lokal: layak (Kalimantan Selatan ), Chandan pelandok (Malaysia). 11. W. tenuiramis Miq., terdapat di Sumatera, Bangka, Kalimantan, Serawak. Nama lokal: kayu linggau (Sumatera), menameng, tentenak, tindat (Bangka). PEMASARAN GAHARU Gaharu merupakan komoditi ekspor. Jumlah ekspor gaharu yang tercatat BPS dari Indonesia pada tahun 1985 mencapai 1487 ton, namun sejak tahun 1990 sampai tahun 1994 menurun drastis yaitu hanya 300 ton/tahun (Departemen Kehutanan 1988, Oetomo 1995). Data terakhir menunjukkan bahwa perburuan gaharu tinggal terisa di hutan alam propinsi Aceh dan Irian Jaya. A. malaccensis sendiri sudah sangat sulit ditemukan di hutan alam, sehingga pada konferensi CITES (Centre for Internacional Trade on Endanger Species) Nopember, 1994 di Florida, USA dimasukkan dalam Appendix II CITES, yaitu sebagai jenis pohon terancam punah (Ditjen PHPA, 1995). Tahun 1995 ekspor gaharu dari Indonesia tidak bisa mencapai kuota CITES lagi yaitu 250 ton (Temu Pakar Gaharu ke dua di Mataram, 1996). Pada temu pakar gaharu, 2002 di Jambi diketahui bahwa sejak tahun 2002-2002 Indonesia hanya mampu mengekspor sebanyak 30 ton saja. Hasil ini akan terus menurun karena luas hutan alam dan tegakan pohon gaharu semakin berkurang. Oleh sebab itu upaya peningkatan produksi gubal gaharu secara lestari hanya dapat dicapai melalui upaya konservasi dan budidaya gaharu. Gaharu yang dihasilkan melalui budidaya tidak terkena syarat “kuota CITESâ€Â berbeda dengan yang dipanen dari hutan alam. Untuk itu setiap pengusaha (masyarakat) yang mengupayakan budidaya gaharu perlu melaporkan luas, jumlah pohon dan nama species ke Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Lembaga BKSDA, Departemen Kehutanan akan mengeluarkan sertifikat “Usaha budidaya gaharuâ€Â, sehingga produk gaharu yang dihasilkan bebas dari berbagai macam iuran seperti Iuran Hasil Hutan (IHH), Cites dll. ³ Negara – negara tujuan ekspor Negara-negara di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Singapore, Taiwan, Jepang, Malaysia. PELUANG BISNIS GUBAL GAHARU Pengguna produk gubal gaharu di dunia adalah meliputi negara-negara Timur Tengah, India, China, Korea, Jepang, serta Eropa yang penduduknya berjumlah lebih dari tiga milyar. Yamada (1995) memperkirakan sebanyak 2000 ton/tahun memenuhi pusat perdagangan gaharu di Singapura. Gaharu tersebut 70% berasal dari Indonesia dan 30% dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Jika satu pohon gaharu hasil budidaya menghasilkan 10 kg gaharu (semua kelas), maka diperlukan pemanenan 200.000 pohon setiap tahun. Indonesia harus mempertahankan daya saing ekspor gaharunya, terutama untuk species A. malaccensis yang asli dan hanya bisa tumbuh di Indonesia dan Malaysia. Partisipasi secara terpadu antara Pemerintah sebagai fasilisator, Masyarakat sebagai pelaku dan Ilmuan sebagai penyedia teknologi diharapkan minimal mampu mempertahankan Indonesia sebagai negara pengekspor gaharu terbesar dunia. Produk gaharu, selain untuk ekspor diharapkan juga dapat dikonsumsi masyarakat Indonesia seperti penggunaan dalam obat-obatan alamiah serta kosmetika. Ketersediaan gaharu secara berkesinambungan akan membuka peluang berkembangnya industri obat-obatan dan kosmetika seperti sabun, lotion, parfum dll. Peningkatan produksi gaharu harus dilakukan melalui pembangunan hutan industri gaharu, hutan rakyat, baik monokultur maupun sistem tumpang sari (campuran) atau bisa juga menggunakan pekarangan rumah, dimana sekaligus berfungsi sebagai penghijauan. Hasil produksi gaharu dengan bantuan rekayasa teknologi diperkiraan menghasilkan 1-2 kg gaharu kelas menengah dan 10 kg kelas kemedangan per pohon setelah berumur 10 tahun. Gubal gaharu yang memiliki harga 2- 5 juta/kg dapat dijual secara langsung sedangkan kemedangan ditingkatkan nilai jualnya dengan cara disuling. Oleh sebab itu budidaya gaharu untuk menghasilkan gubal gaharu secara lestari menjadi salah satu pilihan yang tepat dalam usaha agrobisnis. BUDIDAYA GAHARU. Budidaya gaharu terdiri dari dua tahap pekerjaan. Tahap pertama yaitu tahap penanaman yang dimulai dari pemilihan species komersial yang sesuai dengan lahan, sistem olah tanah yang tepat dan pemeliharaan pembesaran volume batang sampai mencapai tahap generatif. Tahap kedua adalah bioproses gaharu yaitu penginduksian gubal gaharu. Uraian teknis usaha budidaya gaharu akan disampaikan secara ringkas sbb: 1. Pemilihan species, Penanaman, dan Pemeliharaan tanaman a. Pemilihan Species (Bibit). Species tanaman gaharu yang dianjurkan untuk dibudidayakan adalah penghasil gubal gaharu komersial yaitu Aquilaria malaccensis, A hirta, A microcarpa, A beccariana, A. filaria, Gyrinops versteegii (asli Indonesia) serta A. crassna (asal Kalimnatan ) Pemilihan bibit gaharu disarankan juga mengacu pada species-species lokal yang telah terbukti memiliki sifat turunan (genetik) lebih adaptif dengan lingkungan setempat misalnya untuk daerah dataran rendah di pulau pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan dapat diupayakan tanaman gaharu A. malaccensis, A. hirta, A. microcarpa, A. beccariana serta A. crassna. Sedangkan untuk Indonesia bagian Timur dapat dimulai dengan konservasi dan budidaya A. filaria, Gyrinops verstegii meskipun selanjutnya dapat dicoba species-species lainnya. Sampai saat ini usaha budidaya gaharu A. malaccensis, A. microcarpa, Idan A. crassna dalam skala kecil sudah mulai dilakukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Riau (Situmorang, 2000). Semua species diatas terbukti dapat tumbuh baik pada areal tersebut. Budidaya Gyrinops versteegii di Nusa Tenggara Barat bahkan sudah mencapai ratusan hektar (Parman, 1996) Pengadaan bibit bisa dilakukan melalui beberapa metode seperti biji, pencarian anakan liar di hutan alam, pengadaan kebun pangkas (perbanyakan melalui stek), serta Kultur jaringan (Situmorang, 1988). b. Lokasi Penanaman. Di hutan alam tanaman gaharu ditemukan tumbuh mulai dari dataran rendah, bukit dan sampai pegunungan dengan ketinggian 750 m dari permukaan laut. Uji lapang beberapa species gaharu seperti A. malaccensis, A. microcarpa, A. crassna, dan A. filaria telah dilakukan sejak tahun 1997 untuk mengetahui tempat tumbuh gaharu yang paling baik. Penanam dilakukan di Pekanbaru dan Lampung (50 m. dpl), Bogor (300 m. dpl), Sukabumi (600 m. dpl) serta Manado (700 m. dpl). Sistem penanaman dapat dilakukan secara monokultur maupun tumpang sari atau sistem campuran dengan pohon-pohon keras lainnya. Jenis-jenis tanaman keras yang dapat digunakan sebagai campuran yaitu durian, rambutan, karet, mahoni, jati, sengon, jarak dll yang sebelumnya sudah ada dilahan tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua species gaharu di atas dapat tumbuh pada semua lokasi yaitu mulai dari dataran rendah yaitu 50 m. dpl sampai dataran tinggi yaitu 700 m. dpl. Tanaman gaharu tumbuh lebih cepat pada lokasi yang memiliki naungan. Tanaman gaharu A. malaccensis dan A. microcarpa memiliki percepatan pertumbuhan yang lebih lambat dibanding A. crassna dan A. filaria. A. crassna dan A. filaria memiliki percepatan pertumbuhan sekitar dua kali lipat lebih besar dibanding A. malaccensis dan A. microcarpa. Dari hasil uji lapang diatas dapat disimpulkan bahwa penanaman gaharu sebaiknya dilakukan dibawah naungan minimal sampai umur 3 tahun. Kalaupun dilakukan secara monokultur, harus menggunakan pelindung, sehingga cahaya matahari yang terkena tanaman hanya sekitar 50%. Hasil pengamatan di pulau Sumatera dan Jawa menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman gaharu lebih cepat bila ditanam dibawah tegakan Leguminoceae seperti Sengon, Petai, dan Gamal serta Dipterocarpaceae, Mahoni dll. Gambar Kebun gaharu Aquilaria malaccensis dan A. microarpa di Riau. c. Lubang dan Jarak Tanam Ukuran lubang yang dibutuhkan adalah: panjang x lebar x tinggi (dalam)= 40 x 40 x 40 cm. Setelah satu minggu, dimana lubang sudah beraerasi dengan udara luar, masukkan campuran serbuk kayu lapuk dan kompos dengan perbandingan 3 : 1 kedalam lubang sampai mencapai ¾ ukuran lubang. Kemudian setelah minimal 1 minggu (lebih lama lebih baik) berikutnya pohon gaharu, siap untuk ditanam. Sebelumnya tanah dan campuran serbuk kayu dan kompos diaduk rata pada lubang tanam. Waktu pembuatan lubang dilakukan sekurangnya 2 minggu sebelum penanaman. Jarak tanam antar tanaman adalah adalah 3 x 3 m, namun dapat juga ukuran 2.5 x 3 m sampai 2.5 x 2.5 m. Jika tanaman gaharu ditanam pada lahan yang sudah ditumbuhi tanaman lain, maka jarak tanaman gaharu minimal 3 m dari tanaman tersebut. d. Penanaman Penanaman bibit gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 11.00, dan dapat dilanjutkan pada jam 16.00 sore harinya. Bila diluar musim hujan, maka pada sekitar pohon dapat diberikan gel alkrosob yang berfungsi untuk menyimpan air dan menjaga kelembaban. Penyiraman diperlukan minimal sekali tiga hari. e. Pemeliharaan Pemupukan yang baik dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 atau 12 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun di lapang, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman. Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup dibawah permukaan daun bawah. Pada kondisi lembab hama tersebut sangat berbahaya. Oleh sebab itu perlu dilakukan penyemprotan pestisida seperti Tiodane, Decis, Reagent, dll mengarah pada permukaan bawah daun. Pembersihan gulma dapat dilakukan sekali 3 bulan atau pada saat dipandang perlu. Pemangkasan dilakukan pada umur 1 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pada umur 3-5 tahun pucuk tanaman dipangkas agar tanaman tidak terlalu tinggi, tetapi cukup sekitar 5 m dengan kondisi batang yang relatif lebih besar. 2. Bioproses Gubal Gaharu Bioproses gubal gaharu sesuai dengan konsep patogenesis dilakukan dengan sistem terpadu yaitu penyuntikan "mikroba patogen" (agen penginduksi gubal gaharu) dan zat stressing (stressing agent) pada pohon gaharu (inang) berumur minimal 5 tahun (massa kayu sekitar 10 kg). Stressing agent adalah zat pengatur tumbuh yang dapat memanipulasi atau mengkondisikan sistem pertahanan pohon dalam kondisi yang rentan patogen. Perlakuan zat tersebut sebelum inokulasi patogen akan memungkinkan patogen dapat tumbuh, berkembangbiak serta berpenetrasi pada zona-zona kayu untuk tujuan menginduksi pembentukan gubal gaharu. Pohon gaharu (A. malaccensis dan A. microcarpa) berumur mulai 5 tahun di lapang diperlakukan dengan ke dua jenis agent secara bersama-sama. Setelah pohon terinfeksi dengan agen penginduksi gubal gaharu dan menyebar pada sebagian besar (70%) batang pohon, diperlukan penyuntikan stressing agent saja setiap 2 bulan untuk mempertahankan kondisi pohon yang rentan. Pengkondisian sifat ketahanan pohon gaharu yang rentan terhadap penyakit secara berkesinambungan (pohon tetap hidup tetapi merana) telah terbukti dapat mempercepat produksi gubal gaharu. Produksi gubal gaharu akan dapat diamati mulai terbentuk setelah satu bulan perlakuan. Pemanenan gubal gaharu akan dilakukan mulai dari 3, 4, 5 sampai waktu lebih lama setelah bioproses gaharu. Kualitas gubal gaharu yang dihasilkan sangat berbanding lurus (ditentukan) oleh lamanya bioproses artinya semakin lama bioproses semakin tinggi kualitas dan kuantitas gubal gaharu yang dihasilkan. Tahapan Bioproses tersebut adalah sbb: a. Pada batang utama tanaman berumur 5 sampai 6 tahun, secara ekonomis sudah siap untuk di induksi gubal gaharunya. b. Batang dilubangi dengan bor listrik dan mata bor ukuran kecil sekitar 5-8 mm mulai dari pangkal batang sampai mencapat ¾ dari tinggi pohon. Kedalaman lubang adalah sekitar 1/3 diameter batang untuk pohon budidaya yang berumur sekitar 7 tahun. Sedangkan untuk pohon-pohon besar berumur 10 tahun ke atas, kedalaman lubang adalah sekitar 15 cm. c. Jarak antar lubang di atur sekitar 20 cm kearah vertical (atas) dan 10 cm kearah horizontal (samping). Untuk mencapai kuantitas hasil gaharu yang lebih tinggi lubang pada setiap titik dibuat 3 buah dengan jarak sekitar 3 cm. Pembuatan lubang pada pangkal-pangkal cabang di atur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan gubal gaharu berbentuk unik. d. Lubang-lubang kemudian dicucukkan besi panas yang membara, selama 1 menit. (Besi, ukuran dibawah mata bor. Misalnya bila mata bor 8mm, maka besi adalah 5-7 mm). e. Masukkan agen penginduksi gaharu. Cendawan bentuk padat dimasukkan dengan alat “cork borerâ€Â. Cendawan cair, diblender terlebih dahulu, kemudian disaring secara aseptik. Cendawan cair bisa dimasukkan dengan bantuan sprayer, suntikan atau pinset. f. lubang inokulasi tutup dengan lilin malam atau bahan lain seperti lem kayu untuk mencegah kontaminasi. g. Perlakuan inokulasi cendawan dilakukan sampai mencapai/melukai 70% dari bagian batang secara keseluruhan. h. Akhirnya permukaan batang yang dilukai dan dinokulasi ditutup dengan lembaran plastik dan diikat dengan karet. Notes: · Mata bor dan pisau dan peralatan yang digunakan perlu disterilisasi dengan cara membilas alkohol 70% dan pembakaran, atau air panas. Pemanenan Produksi gubal gaharu akan dapat diamati mulai terbentuk setelah satu bulan perlakuan. Akumulasi minyak gaharu (sesquiterpena) tersebut dimulai dengan warna kayu yang mencoklat dan tekstur keras, berbau wangi. Pemanenan gubal gaharu akan dilakukan mulai dari 2, 3, 4 sampai dengan 5 tahun setelah bioproses dengan cara menebang tanaman. Kualitas global gaharu yang dihasilkan sangat berbanding lurus (ditentukan) oleh lamanya bioproses artinya semakin lama bioproses semakin tinggi kuantitas dan kualitas gubal gaharu yang dihasilkan. Potongan-potongan gubal gaharu dipisah dari bagian kayu yang masih sehat, kemudian disortir menurut warna/kelasnya (super, AB, BC, C1, C2, dan lainnya). Untuk mengurangi kadar air, potongan gubal gaharu perlu dikeringkan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari. Hasil Panen Jumlah produksi gaharu umumnya bervariasi karena keragaman genetik pohon. Jumlah hasil produksi gaharu hasil budidaya setelah 10 tahun adalah sekitar 30 kg perpohon dengan berbagai kualitas. Sebanyak 10% (3 kg) berupa kelas atas, 30% kelas menengah, 40 % kemedangan, dan sisanya adalah abu gaharu. Daftar Pustaka Afifi, 1995. Analisa penyebab terjadinya gubal dan kemedangan pada tanaman gaharu. Makalah dipersentasikan pada Temu Pertama Pakar Gaharu, 20 Oktober 1995, Jakarta, 55p. Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan (terjemahan), Edisi ke tiga, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. 803p. Burkill, M.A., F.L.S. 1935. A dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula. Government of the Straits Settlements and Federated Malay States by the Crown Agents for the Colonies Mill bank, London, S.W. Vol. I (A - H). Departemen Kehutanan. 1988. Statistik Kehutanan Indonesia 1986/1987. Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan, Pusat Inventarisasi Hutan. Jakarta. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. 1995. Kerjasama Pemanfaatan Gaharu (Aquilaria malaccensis). Kertas Kerja Temu Pakar Gaharu I, Jakarta, Mei 1995. Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Jilid III: Thymelaeaceae. p.1467-1469. Hou, D. 1960. Thymelaeaceae. Dalam Van Steenis, C. G.G.J. (ed.). Flora Malesiana. Gronigen: Walters-Noordhoff Publishing (1): 1-48. Ishihara, M., T. Tsuneya, M. Shiga and K. Uneyama. 1991. Three Sesquiterpenes from Agarwood. Phytochemistry 30(2):563-566. Kunoh H. 1990. Ultrastructure and Mobilization of ions near infection sites. In Ann. Rev. Phytopathol 28: 93-111. Nakanishi, T., E. Yamagata, K. Yoneda, and I. Miura. 1981. Jinkohol, a prezizane sesquiterpene alkohol from agarwood. Phytochemistry 20 (7): 1597-1599. Oetomo, H. 1995. Tinjauan Sepintas Terhadap Perdagangan Komoditi Gaharu di Singapura pada Bulan September 1995. Asosiasi Pengusaha Damar Gubal Gaharu dan Kemedangan Indonesia (APDGKI). Parman, T. Mulyaningsih dan M.Y.A. Rahman. 1996. Studi Etiologi Gubal Gaharu pada Tanaman Ketimunan (A. filaria). Temu Pakar Gaharu. Kanwil Dephut. Propinsi NTB, 11-12 April, 1996. Rahayu, G., Isnaini, Y., Situmorang, J. dan Umboh, M.I.J., 1998. Cendawan yang berasosiasi dengan gaharu (Aquilaria spp.) dari Indonesia. In. Proceedings of the Seminar Pertemuan Ilmiah Tahunan PERMI. Bandar Lampung, 16-18 Desember 1998, p.385-393. Salampessy, Faisal 2005. Standar Gaharu Indonesia. Pemanenan, mutu, jenis dan pemasaran. In Proceeding. Peluang dan Tantangan Pengembangan Gaharu di Indonesia, Bogor, 1-2 esember 2005. Sidiyasa, K. 1986. Jenis-jenis gaharu di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2 (1):7-16 Situmorang, J. 2000. Mikropropagasi Kayu Gaharu (Aquilaria spp.) Asal Riau Serta Identifikasi Sifat genetiknya Berdasarkan Analisa Isoenzim, Thesis S2, IPB, 58p Vanderplank, J.E. 1978. Genetic and Molecular Basis of Plant Pathogenesis. Springer.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar