Jumat, 30 Maret 2012

JUAL Bibit Gaharu Malaccensis

JUAL BIBIT GAHARU Jenis : A. malaccensis


POHON GAHARU ( AGARWOOD )

GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga sangat tepat apabila dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia Hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling untuk produksi minyak dengan harga yang sangat menjanjikan. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri. Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.
Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya. Sementara stok gaharu alam semakin menurun akibat ditebang terus-menerus tanpa diimbangi penanaman. Kebutuhan gaharu dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk obat-obatan di China. Kebutuhan obat merupakan kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya sangat dibutuhkan manusia.
Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil gaharu terbesar di dunia, namun saat ini potensinya menurun, bahkan gaharu sudah menjadi jenis yang langka ditemukan. Beberapa jenis pohon penghasil gaharu sebagian besar termasuk dalam famili Themeleaceae, terutama dari genus Aquilaria dan Gyrinops, yang dapat menghasilkan gubal gaharu dengan kualitas terbaik (harga tinggi). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penanaman gaharu diperlukan pengetahuan yang memadai dalam bidang silvikultur (teknik budidaya) dan teknologi untuk mempercepat mendapatkan gubal gaharu (inokulasi). Tanpa mengetahui kedua masalah tersebut diatas, rasanya sulit untuk mendapatkan hasil gaharu yang memuaskan. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon gaharu menghasilkan gubal gaharu, hanya pohon yang terinfeksi cendawan tertentu saja yang dapat menghasilkan gubal gaharu. Sehingga secara alami pohon gaharu yang dapat menghasilkan gubal, prosentasenya sangat kecil, Oleh karena itu diperlukan teknologi inokulasi untuk mempercepat terbentuknya gubal gaharu. Ayo lestarikan hutan Indonesia demi generasi mendatang.

Apa itu agarwood (gaharu)?




Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae).

Harga 1 Batang Pohon Agarwood bisa mencapai beberapa ribu dollar USD per kilogram, makanya Pohon Ini disebut sebagai “POHON YANG SANGAT MAHAL DI DUNIA – ”MOST EXPENSIVE TREES IN THE WORLD
Setelah Penyulingan Harga Minyak Gaharu Bisa Mencapai Sekitar USD 5,000 ~ USD 10,000/kg dan Setelah Dibuat Menjadi Cairan Extract Harganya Mampu Mencapai Lebih Dari USD 30,000 atau Rp. 300.000.000,- / Liter.

 Manfaat Agarwood
  1. Aktivitas Kebudayaan - Islam, Budha, Hindu
  2. Perayaan Keagamaan - Kebanyakan di Negara Islam dan Arab
  3. Wangi Parfum - Wanginya Tahan Lama Banyak Diminati di Negara Eropa Seperti Daerah Yves Saint Laurent, Zeenat dan Amourage
  4. Aroma Terapi - Menyegarkan Tubuh, Perayaan dan Undangan
  5. Kecantikan - Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak
  6. Obat & Kesehatan - Biasa Digunakan di Pengobatan Tradisional Khususnya Dinegara China dan Jepang
  7. Koleksi Pribadi - Untuk Ruangan Besar Khusus Eksklusif
Kebutuhan Agarwood Dunia

Kebutuhan dunia akan agarwood atau gaharu terus meningkat. Menurut statistik, Indonesia yang pada tahun 1995 menjadi pengexport gaharu yang cukup besar, kini nilai exportnya semakin menurun.
Mengingat permintaan dunia akan agarwood yang terus meningkat, maka proyek Pengembangan Agarwood sangat menguntungkan "Investment for Highest Profit"


Penanganan Bibit Gaharu Cabutan/Stump
Berikut ini kami sampaikan beberapa catatan untuk mendukung keberhasilan pemeliharaan bibit gaharu (Aquilaria malaccensi) yang berasal dari cabutan/stump (pengiriman dari tempat lain) :
  • Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus terlebih dahulu dikondisikan dengan penyungkupan. Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko kegagalan walaupun bedeng pemeliharaan telah diletakkan di bawah naungan sekalipun. Ikuti petunjuk teknis pembuatan sungkup sebagaimana yang kami lampirkan. Sungkup terbuat dari plastic dan plastic sungkup tersebut dapat diperoleh dari toko peralatan pertanian atau toko plastic.
  • Media tanam sebaiknya merupakan campuran: tanah : kompos : pasir (2:1:1)
  • Penyiraman pertama harus betul-betul jenuh air dan penyiraman berikutnya hanya dilakukan jika media tanam terlihat kering. Dalam penyiraman tersebut dihindari membuka sungkup ukuran besar, cukup hanya dimasuki selang/lobang kecil.
  • Peletakan sungkup/bedeng pemeliharaan harus di bawah naungan tegakan (sebaiknya rindang) sehingga tidak ada sinar matahari langsung dengan intensitas tinggi dan lama. Paranet/shading net 75% diperlukan jika naungan tegakan kurang dan sebaiknya diatas sungkup diberikan lagi jerami/ pelepah daun kelapa/sawit. Periksa jika terjadi kebocoran pada sungkup.
  • Hindari membuka-tutup sungkup cukup sering. Dengan pembuatan sungkup yang tepat, kondisi di dalam sungkup akan terlihat mengembun dan tidak kering. Jika terlalu sering membuka dan menutup sungkup bibit beresiko kematian.
  • Setelah 3-4 minggu, sungkup dibuka secara bertahap, dilarang membuka sungkup sekaligus. Contoh : hari pertama dibuka 0,5 meter, hari kedua 1 meter dan seterusnya. Jika dibuka sekaligus bibit beresiko kematian.
  • Setelah dikeluarkan dalam sungkup, bibit dipeliharan dibawah naungan paranet dan sebaiknya juga di bawah tegakan agar tercipta iklim yang baik bagi pertumbuhan bibit.
CONTOH BIBIT ANAKAN TANPA POLIBAG SEBELUM di SUNGKUP PLASTIK

CONTOH BIBIT ANAKAN YANG DI KASIH SUNGKUP PLASTIK

CONTOH BIBIT GAHARU POLIBAG SIAP TANAM


MEMPERCEPAT PRODUKSI GAHARU DENGAN TEKNOLOGI INOKULASI
Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Pemanfaatan gaharu sangat bervariasi dari bahan baku pembuatan dupa, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, hingga bahan obat-obatan sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf, dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan dan perdagangan yang masih mengandalkan alam, beberapa jenis tertentu pohon penghasil gaharu mulai langka dan telah masuk dalam appendix II CITES.

Mengantisipasi kemungkinan pubahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi.

Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga), dan Banten (Carita).

Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan. Untuk saat ini, produksi gaharu buatan yang dipanen pada umur 1 tahun berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US$ 100 per kilogram.

Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.


KEUNGGULAN BELI BIBIT :

1.Ada sertifikat keaslian bibit pohon gaharu
2.Ada jaminan dari perusahaan mengenai  penyediaan SERUM untuk proses INOKULASI
3.Ada jaminan dari perusahaan untuk pembelian gubal di saat panen
4.Ada sistem sehingga memungkinkan uang yang di belanjakan untuk beli bibit gaharu bisa kembali ( BALIK MODAL ) sebelum PANEN
5.Jika mengajak orang untuk beli bibit gaharu bisa dpt penghasilan tanpa batas


PAKET INVESTASI (SILAKAN PILIH)

1.Bibit anakan tanpa polibag isi: Harga Rp.6.000,-/pohon (min 100 pohon)
2.Bibit polibag siap tanam isi: Harga Rp.17.000,-/pohon
3.Bibit paket investasi isi: 1 Pohon Harga Rp.350.000,- (Titip Tanam di kami)--->Bukti kepemilikan dapat sertifikat

 (SILAKAN PILIH PAKET DIATAS)
INFORMASI DAN KONSULTASI
0812-87932-777
0856-9281-9898
investasi pohon gaharu

ISOLASI JAMUR UNTUK GAHARU

PENGEMBANGAN INOKULUM JAMUR PENGINDUKSI GAHARU 

I. ISOLASI JAMUR DARI SAMPEL BATANG TERINFEKSI Tujuan: memperoleh biakan jamur dari sample batang yang menunjukkan gejala pembentukan resin gaharu. Bahan & Alat: - Sample batang - Media PDA (potato dextrose agar) , - Alkohol 96% - NaOCl 5% - Aquadest steril - Cawan Petri - Labu Erlenmeyer - Pinset - Blade & scapel 
Cara Kerja: 
1. Semua peralatan dan bahan disterilkan. 
2. Media PDA disiapkan , lalu disterilkan dengan menggunakan autoclave (1210 C, 1 atm, 15’), setelah agak dingin, dituangkan ke dalam cawan petri steril, dibiarkan supaya membeku. 
3. Sterilisasi sample: - Sample dicuci dengan air mengalir untuk membersihkan kotoran yang melekat (terbawa). - Potongan kayu dibilas dalam larutan alcohol 96 % selama 3 menit, alcohol dituang ke tempat lain. - Lalu potongan kayu tersebut dibilas dengan aquadest steril, 3 menit, kemudian aquadest dituang ke tempat lain - Sample dikocok dalam larutan NaOCl 5% selama 2 menit, setelah itu, NaOCl dituang ke tempat lain. - Sample dibilas kembali dengan aquadest steril (3X ), sampai tidak tercium bau kaporit.
 4. Sample (potongan batang kayu gaharu) yang telah steril, dibiakan pada media PDA, diinkubasi beberapa hari (+ 1 minggu) dan diamati jamur yang tumbuh dari potongan kayu tersebut, jika koloni jamur tersebut telah mencapai diameter tertentu, dapat dipindahkan ke media PDA yang baru. 

II. PEMURNIAN & PEMBIAKAN ISOLAT Tujuan: 
Memperoleh biakan isolate jamur yang homogen pada setiap cawan Bahan & Alat: - Biakan jamur hasil isolasi - Media PDA dalam petri - Jarum ose - Bunsen 

Cara Kerja: 

1. Setiap koloni jamur yang tumbuh dari potongan kayu, dipindahkan ke media PDA baru. 

2. Kultur diinkubasi + 1 minggu, lalu dimurnikan (dapat dilakukan dengan metode: ‘single spore’ atau ‘hyphal tip’) dengan dipindah ke media yang baru. 

3. Kultur yang sudah murni, dapat terus diremajan, dengan cara disubkultur ke media PDA dalam selang waktu tertentu (bergantung dari laju pertumbuhan isolate tersebut, biasanya sekitar 2-4 minggu) 

4. Untuk memudahkan proses inokulasi, isolate yang telah murni ini dibiakan dalam media carrier. Media carrier dapat berupa media cair maupun padat. Pemilihan media carrier, harus mempertimbangkan: kemudahan saat aplikasi di lapangan dengan tetap menjaga viabilitas & daya infeksi isolate seoptimal mungkin.

MAHALNYA HARGA POHON EMAS/ GAHARU

Mahalnya harga jual getah dan pohon gaharu saat ini membuat banyak petani Kotabaru mulai tertarik untuk mengembangkan dan membudidayakan pohon gaharu. Selain memiliki harga ekonomis yang tinggi, pohon gaharu juga dapat tumbuh di kawasan hutan tropis. Pengembangan pohon gaharu saat ini tak terlalu banyak dikenal orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan menanam pohon ini. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan warga hanya dalam waktu beberapa tahun. Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Karena itu sebenarnya warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 9 sampai 10 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram getah gaharu. Sementara harga getah gaharu mencapai Rp5-20 juta per kilogram. Harga itu tergantung dari jenis dan kualitas getah gaharu. Untuk getah gaharu yang memiliki kualitas rendah dan berwarna kuning laku dijual Rp5 juta per Kg, sedangkan untuk getah pohon gaharu yang berwarga hitam atau dengan kualitas baik laku dijual Rp15-20 juta per Kg. Salah seorang petani Kotabaru yang sudah mengembangkan pohon gaharu ini adalah Miran, warga Desa Langkang, Kecamatan Pulau Laut Timur. Menurutnya, untuk menanam pohon gaharu dan menghasilkan banyak getah diperlukan perawatan khusus. Saat pohon gaharu berumur sekitar 5-8 tahun, pohon yang tumbuh seperti pohon hutan alam itu perlu disuntik dengan obat pemuncul getah. Setiap pohon diperlukan satu ampul dengan harga Rp300 ribu. Miran mengaku, ia sudah menjual sekitar 50 batang pohon gaharu yang masih berumur sekitar 1-3 tahun dengan nilai Rp19 juta. Ia juga telah menanam 500 batang pohon gaharu dengan umur satu tahun lebih dan tinggi sekitar 50 cm. Karena memiliki sifat tumbuh yang tidak jauh beda dengan tanaman hutan lainnya, setiap hektar lahan dapat ditanam sekitar 500 pohon gaharu dengan jarak tanam sekitar 3-4 kali 6 meter. Bibit pohon gaharu tersebut ia peroleh dari Samarinda, Kalimantan Timur, yang sebelumnya dikembangkan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Harga bibit dari Rp7.500 sampai Rp10.000 per pohon. Untuk pemasaran tidak perlu repot, karena banyak pembeli yang siap mendatangi mereka yang memiliki getah gaharu. Pengusaha transportasi itu juga berharap usaha yang ia rintis dapat diikuti masyarakat dan petani lain di Kotabaru. Apalagi bila mengingat masih banyak lahan tidur dibiarkan terbengkalai mubazir. “Jika lahan tidur di wilayah kita dikembangkan dengan menanam gaharu, maka 10-15 tahun kemudian akan menghasilkan uang ratusan juta,terang Miran. Sebelumnya, Miran sudah mencoba beberapa tanaman kebun, namun hasilnya tidak seperti menanam pohon gaharu. Dalam satu pohon usia dewasa dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah,

Pengolahan Aneka Produk Gaharu

Beberapa cara pemanfaatan gaharu dalam industri antara lain:
1. Pembuatan Minyak Gaharu: 
baku yang dipakai adalah jenis kemedangan. 
a. Giling halus bahan kayu gaharu berbentuk Chips 
b. Rendam ± 7 hari 
c. Destilasi sehingga di peroleh minyak gaharu kwalitas pertama 
d. Serbuk gaharu yang sudah didestilasi, jemur kembali 
e. Destilasi ulang sehingga didapat sulingan II sampai III kali penyulingan yang masing-masing hasil penyulingan berbeda kwalitasnya. 

2. Pembuatan Cindra Mata: Bahan berupa kemedangan tua ke atas diukir dan dibubut untuk dijadikan berbagai macam cindra mata antara lain pulpen, tasbih, dan gantungan kunci. 

3. Pembuatan Dupa (makmul) dan Hio: 
a. Campur bahan gaharu kemedangan bawah/serbuk hasil sulingan/ekstrak dengan abu lengket. 
b. Tambahkan air 
c. Cetak dan jemur/dioven 
d. Masukkan aroma – aroma sesuai dengan yang dikehendaki ( ada juga produsen yang memakai serbuk kayu Jelutung dan sejenisnya dicampur dengan serbuk gaharu dengan cara yang sama) 

4. Penggunaan dalam Campuran Kosmetik Pada umumnya yang dibuat campuran dalam kosmetik adalah air sisa sulingan yang berada di dalam tangki, berguna untuk menghaluskan dan menyegarkan kulit. 

5. Dalam industri Obat-obatan: 
a. Bahan yang biasa digunakan untuk industri obat-obatan adalah kulit kayu dan daun gaharu yang telah kering. Kadang-kadang serbuk gaharu digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan rokok atau dipakai diHoggah (Alat rokok di Arab). 
b. Jenis gaharu yang bagus dapat direndam dengan air panas setelah dingin, disaring kemudian diminum. 
c. Manfaatnya untuk obat: - Darah tinggi - Sesak nafas (ashma) - Jantung - Untuk mandi uap sebagai penyegaran kulit dan vitalitas 

6. Gaharu Buatan (Gaharu Hitam) a. Bahan dari kemedangan bawah atau kayu lain yang mirip gaharu misalnya kayu Jelutung/lamik dibentuk menyerupai bentuk gaharu alami. b. Masukkan ekstrak gaharu dengan cara penekanan & pemanasan sehingga berwarna hitam kecoklatan & beraroma gaharu tergantung dari ekstrak gaharu asal misalnya dari Irian atau Kalimantan. 

7. Pembuatan ekstrak gaharu 
a. Bahan dari kayu gaharu jenis Tanggung C dibuat serbuk 
b. Direndam dengan pelarut 1: 6 
c. Diaduk ± 24 jam dan dibiarkan 
d. Diambil cairan pelarutnya & sisa ampasnya diperas sehingga kering 
e. Campuran pelarut & ekstrak didestilasi
 f. Diperoleh ekstrak kental/kristal (hasil ekstrak bisa dijadikan campuran rokok atau diekspor dengan harga Rp. 1.500.000,- s/d 2.500.000,-/kg) 

PROSES PEMBUATAN MINYAK GAHARU PENGGILINGAN BAHAN DIRENDAM ± 7 HARI MINYAK & AIR TERPISAH PENYULINGAN DENGAN SISTEM STEAM, REBUS, ATAU KUKUS PEMBUATAN MAKMUL PEMBUATAN GAHARU HITA

 

Penyulingan GAHARU

PENYULINGAN GAHARUTEKNIK PENYULINGAN GAHARU Oleh: Entet Suwardi Sumadiwangsa, Enen Edriana dan Erik Dahlian Puslitbang Hasil Hutan, Badan Litbang Kehutanan Jl. Gunung Batu, Bogor.

I. Pendahuluan
Minyak atsiri (m. eteris, essential oil) adalah minyak yang mudah menguap yang dihasilkan dari sumber hayati dengan cara isolasi terutama dengan cara penyulingan, digunakan sebagai minyak pewangi, penyedap dan obat-obatan. Beberapa contoh minyak antara lain: minyak cendana, m.kayu putih, , m. sintok, m. keruing, m. terpentin, m. trawas, m.usar, m. sereh, m.lawang, m. masoy, m.eucalyptus, m.kenanga, m. pinus, m. ylang-ylang, m.kayu manis, m. daun cengkeh dan m. gaharu. Suat jenis minyak atsiri tersusun oleh puluhan macam komponen kimia. Sebagai contoh m. terpentin mengandung lebih dari 30 macam komponen kimia. Begitu juga m. gaharu tersusun dari lebih 30 macam komponen kimia. Komponen kimia penyusun m. atsiri yang telah diketahui mencapai ribuan macam, tetapi kesemuanya dapat digolongkan pada 4 kelompok yaitu 1) aneka terpen, 2) senyawa rantai lurus, 3) turunan benzena dan 4) aneka senyawa lain. Bahan baku m. atsiri terutama berupa daun dan bunga, selain itu juga dapat dihasilkan dari biji (kilemo), kulit batang (masoy, lawang, kilemo, kayu manis), kayu (cendana, gaharu), akar (akar wangi) dan getah (m. terpentin). Sumber penghasil terdiri dari tumbuhan yang cepat berproduksi seperti nilam, lada, sereh dan usar, tumbuhan yang agak cepat berproduksi seperti lawang, kayu putih, kilemo, pohon wangi, kilemo dan kayu manis dan tumbuhan yang relatif lama berproduksi seperti cendana, pinus dan gaharu. Minyak atsiri terutama diproduksi dengan cara penyulingan. Selain itu juga dapat diperoleh dengan cara enflourasi (ekstraksi dengan lemak dingin); maserasi (ekstraksi dengan lemak panas) dan dengan pelarut menguap (benzena, dietileter dan petroleum eter). Beberapa m. atsiri yang cocok diproduksi dengan pelarut menguap antara lain bunga melati, sedap malam, jonquil,hyacinth, akasia, mimosa dan violet. Minyak atsiri ini tidak dapat dihasilkan dengan cara penyulingan. Harga m. atsiri sangat bervariasi tergantung dari macam dan mutu minyak. M. kayu putih, m. sereh dan m. ekalyptus setiap kg-nya berharga sekitar puluhan ribu rupiah. M. nilam bervariasi dari seratus sampai tujuh ratus ribu rupiah.. M. atsir yang paling mahal adalah m. masoy, m. cendana dan m. gaharu.(mencapai jutaan rupiah). Harga setiap kg m gaharu, ex Jambi bisa mencapai 50 juta rupiah. Dalam tulisan ini akan dikupas mengenai macam dan teknik penyulingan gaharu (kamedangan) agar proses penyulingan efektif dengan hasil minyak dan maksimal. II. Teknik Penyulingan. Penyulingan dapat diartikan sebagai pemisahan komponen kimia yang mudah menguap berdasarkan perbedaan tekanan uap masing masing komponen kimia yang terkandung di dalam bahan. Penyulingan dapat dilakukan dengan 3 macam cara yaitu 1) penyulingan dengan air, 2) penyulingan dengan uap dan air, dan 3) penyulingan langsung dengan uap. Pada prinsipnya alat penyuling terdiri atas ketel uap, ketel daun, condenser (pengembun, pendingin), penampung dan pemisah minyak. Ketel uap (boiler) berisi air yang dengan pemanasan bertindak sebagai sumber uap pembawa m. atsiri. Kondenser berfungsi untuk mengkondensasikan (mengembunkan) uap (campuran uap air dan m. atsiri) sehingga diperoleh campuran air dan m. atsiri. Penampung minyak (Flourentine flask) dapat memisahkan air dan minyak secara otomatis. a. Bahan alat penyuling Logam yang dapat dipakai untuk pembuatan alat penyuling sebaiknya disesuaikan dengan bahan baku dan hasil m. atsiri. Besi adalah logam yang mudah korosif maka perlu dihindarkan untuk pembuatan alat penyuling. Logam yang sesuai untuk bahan alat penyuling adalah stailess steel (baja tahan karat), baja galvanized, aluminium dan timah. b. Persiapan bahan baku Bahan (terutama berupa bunga dan daun) selama disimpan kandungan m. atsirinya akan susut atau berubah ujud disebabkan oleh proses penguapan, oksidasi, resinifikasi, respirasi, fermentasi dan proses kimia serta biologis lainnya. Dengan konsekuensi rendemen dan mutu minyak akan berubah. Karenanya selama menunggu proses penyulinganbahan perlu dikeringkan atau dilayukan sebelum proses penyulingan berlangsung. Sebelum dimasukkan ke dalam ketel bahan, ukuran bahan perlu diperkecil (dirajang, diiris atau digiling) sampai ukuran tertentu agar proses penyulingan dapat berjalan secara efisien. Ukuran bahan yang terlalu kecil atau terlalu besar dapat menyebabkan tidak seluruh minyak yang terkandung di dalam bahan susah untuk habis tersuling. Ukuran bahan juga perlu disesuaikan dengan penerapan cara penyulingan. Khusus kamedangan, untuk meningkatkan rendemen bahan yang akan disuling sebaiknya direndam di dalam air selama 5-7 hari. c. Proses Penyulingan Proses yang terjadi pada penyulingan terutama terdiri dari 1) hidrodifusi bahan, 2) hidrolisa komponen kimia minyak atsiri, dan 3) dekomposisi oleh suhu penyulingan. 1. Proses hidrodifusi bahan. Sebagian m. atsiri akan keluar ke permukaan bahan, kemudian karena kondisi panas akan menguap yang selanjutnya terbawa oleh aliran uap air. Makin tinggi suhu dan tekanan makin tinggi pula proses difusi berlangsung. 2. Hidrolisa komponen kimia m. atsiri. Hidrolisa adalah reaksi kimia antara air dan komponen kimia m. atsiri. Sebagian dari komponen kimia m. atsiri adalah ester. Pada suhu yang tinggi karena adanya air maka sebagian ester akan berubah menjadi asam dan alkohol. 3. Dekomposisi oleh suhu penyulingan. Pada awal pemanasan, terlebih dulu akan menguap komponen kimia yang bertitik didih rendah. Setelah komponen ini habis menguap secara bertahap akan diikuti oleh komponen yang bertitik didih sedikit lebih tinggi. Proses ini berlanjut sampai komponen bertitik didih tertinggi juga akan menguap bila kondisi suhu dan tekanan memadai. Karenanya untuk m. atsiri dengan komponen titik didih tinggi seperti nilam dan kamedangan sebaiknya dilakukan dengan cara penyulingan langsung uap. Pada praktek penyulingan, ketiga proses tersebut terjadi secara serentak dan satu sama lainnya saling berinteraksi. d. Cara Penyulingan Seperti telah dikemukakan bahwa terdapat 3 macam cara penyulingan yaitu cara rebus (kohobasi, penyulingan dngan air); cara kukus (air dan uap) dan cara langsung dengan uap. Pada cara pertama, ketel suling berisi bahan yang direndam air yang dipanaskan sampai terjadi penguapan air (Gambar 1.). Pada cara kedua, bahan dan air masih berada dalam satu ketel, tetapi bahan berada di atas sekat berlubang sedang air sebagai sumber uap berada di bawah sekat (Gambar 2). Dengan demikian bahan terpisah dengan air.atau bahan tidak terendam air. Pada cara ketiga, sumber uap (boiler) terpisah dengan ketel bahan (Gambar 3.). Bagian lain dari alat penyuling yaitu kondenser (Gambar 4.) dan penampung minyak (Gambar 5.) tidak ada perbedaan. Gambar 4. Kondensor. Gambar 5. Alat penampung m. atsiri Tabel 1. Perbedaan cara penyulingan Kriteria Cara Penyulingan Cara Rebus (A) Cara kukus (B) Langsung Uap (C) Tipe Alat Sederhana, murah, mudah dipindah Sederhana, agak mahal, mudah dipindah Rumit, mahal, susah dipindah Skala usaha Usaha Kecil Kecil/Menengah Besar Bahan penghara Halus, tidak baik untuk bahan yang larut air Cocok untuk rerumputan dan dedaunan Untuk biji, akar dan kayu dengan minyak bertitik didih tinggi Kondisi bahan Bubuk halus Bahan seragam tidak terlalu halus, akar dan biji Sama dengan B Pengisian bahan Bahan terendam air Harus homogen Sama dengan B Difusi Baik jika bahan bergerak bebas Baik Baik jika uap sedikit basah, tidak terlalu panas dan tekanan tidak terlalu tinggi Tekanan uap Sekitar 1 atm Sekitar 1 atm 1-5 atm tergantung bahan Suhu ketel Sekitar 100 ºC Sekitar 100 ºC Lebih dr 100 ºC Hidrolisa minyak Hidrolisa ester Hidrolisa dihambat asal ketel tidak terlalu dingin Hidrolisa relatif kecil Efisiensi proses Rendah Agak baik Tinggi Rendemen Rendah komponen ttk ddh tinggi tak tersuling Baik jika bahan dirajang dan isi homogen Baik jika tidak terjadi pendinginan yang tinggi Mutu minyak Baik bila tak ada kegosongan Baik bila dilakukan secara tepat Baik bila dilakukan secara tepat Air destilat Sebaiknya dikembalikan ke ketel suling Dapat dibuang dibuang Dari Tabel 1. ternyata bahwa untuk menyuling kamedangan sebaiknya digunakan cara langsung uap. III. Pengujian Pengujian m. atsiri perlu dilakukan karena harga minyak sangat tergantung dari mutu yang tersaji. Pengujian mencakup sifat fisiko-kimia, kadar bahan utama dan kadar kontaminan yang terdapat di dalam minyak. Penetapan sifat fisiko-kimia mencakup: kadar air, bobot jenis, putaran optik, indeks bias, kelarutan dalam alkohol, titik beku, titik cair, titik didih, titiknyala dan sisa penguapan. Penetapan sifat kimia mencakup: bilangan asam, bilangan ester, bilangan penyabunan, penetapan alkohol, aldehida dan keton, fnol, sineol, askaridol, kamfer, metil antaranilat, alil isosianat, asam sianida dan penetapan bilangan iod. Penetapan komponen utama: untuk m. kayu putih dan m ekaliptus: kadar sineol; untuk m. cendana kadar santalol; untuk nilam kadar patchouly alkohol. Untuk m. gaharu belum terdapat standar mutu yang bisa dianut. Selain itu untuk m. atsiri perlu diditeksi adanya bahan pemalsu yang dapat menambah berat tetapi akan sangat merusak sifat minyak murni. Bahn pemalsu yang sering digunakan antara lain: minyak bumi, m. lemak, rosin, terpinil asetat, terpentin, asetin, etil alkohol, metil alkohol dan ester bertitik didih tinggi. IV. Kesimpulan dan Saran Ketiga cara penyulingan dapat digunakan untuk menyuling kamedangan. Tetapi bila dana tersedia yang paling cocok adalah cara langsung uap. Daftar Pustaka Cooper, C.M. 1957. Distillation di dalam Raymond E.K. and d.f. Othmer. Encyclopedia of Chemical Technology. First Supplement Volume. The Interscience Enc. Inc New York. Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri, Jilid 1 diterjemahkan oleh S. Ketaren. Universitas Indonesia.



TANAM GAHARU sampai Panen

BUDI DAYA GAHARU dari penanamam sampai panen
UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI GAHARU ASLI KALIMANTAN SEAMEO BIOTROP BOGOR GAHARU Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp. (BSN, 1999). Pada perdagangan internasional gaharu dikenal dengan sebutan agarwood, aloe wood, dan eagle wood, oud (Timur tengah), dan Cing (Cina). Gaharu merupakan produk hutan bukan-kayu yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, sehingga berperan dalam menyumbang sumber pendapatan devisa Negara. Harga per kg gaharu mutu super dapat mencapai sekitar Rp.15 juta/kg (ASGARIN, 2005). Bahkan saat ini, harga gaharu untuk mutu super di pasar lokal saja bisa mencapai Rp. 30 juta per kg, sedangkan harga minyak gaharu mencapai US$ 98 per sepuluh milliliter. Hasil survey Yamada 1995 menunjukkan bahwa sebanyak 2000 ton/tahun gaharu asal Indonesia memenuhi pusat perdagangan gaharu dunia di Singapura. Yamada juga menjelaskan bahwa dari seluruh gaharu yang diperdagangkan di dunia sebanyak 70% berasal dari Indonesia dan sisanya 30% dari negara-negara Asia Selatan lainnya. Tingginya harga gaharu ini disebabkan karena gaharu khususnya kualitas atas (Super, AB, BC) merupakan kebutuhan pokok baik untuk acara ritual ke agamaan maupun untuk wangi-wangian di negara-negara Timur Tengah. Sebesar 90% ekspor gaharu ditujukan ke negara- negara di Timur Tengah sedangkan untuk kelas menengah kebawah kenegara-negara Asia seperti Taiwan, Cina, Korea, dan Jepang, yang digunakan untuk produksi minyak dan acara -acara ritual dalam bentuk Hio (ASGARIN, 2005). Perdagangan dan pemanfaatan gaharu lainnya berdasarkan data ekspor adalah untuk bahan baku industri kosmetika seperti parfum, minyak, sabun, lotions, pembersih muka serta obat-obatan seperti obat hepatitis, liver, antialergi, obat batuk, penenang sakit perut, rhematik, malaria, asma, TBC, kanker, tonikum, dan aroma terapi (Boruah & Singh 2000). Substansi aromatik yang terkandung dalam gaharu termasuk dalam golongan sesquiterpena. Sesquiterpena yang dihasilkan pada gaharu memiliki struktur kimia yang sangat spesifik sehingga sampai saat ini belum bisa dibuat secara sintetis. Nakanishi, et.al. 1981 dan Ishihara et.al. 1991 menyatakan bahwa beberapa macam zat penting yang terkandung dalam gubal gaharu adalah b-Agarofuran, a- Agarofuran, Nor-ketoagarofuran, (-)-10-Epi-y-eudesmol, Agarospirol, Jinkohol, Jinkohol-eremol, Kusunol, Dihydrokaranone, Jinkohol II dan Oxo-agarospirol. Sesquiterpena adalah salah satu metabolit sekunder golongan terpena yang mengandung 15 atom karbon dalam bentuk tiga unit fusi C5. Biosintesis terpena dihasilkan dari Acetyl CoA melalui siklus asam mevalonik. Terpena berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, misalnya sesquiterpena, merupakan prekursor terhadap biosintesis asam absisik. Sesquiterpena juga berfungsi sebagai materi pertahanan (toksin) terhadap cendawan, dan bakteri serta menghasilkan aroma wangi sehingga dikenal sebagai sesquiterpena aromatic (Taiz, et al., 1991). Pada umumnya setiap tanaman menghasilkan sesquiterpena aromatik yang berbeda-beda. Pada kapas dihasilkan sesquiterpena aromatik yang dikenal sebagai "gossipol" (Picman 1986), sedangkan pada gaharu dikenal sebagai "jinkohol" (Nakanishi et al., 1981). Perbedaan kualitas dan harga gubal gaharu tergantung pada kandungan sesquiterpena baik persentasinya maupun jenis komponennya (Ishihara et al., 1991). Hasil analisis Yoneda et al., (1984) menunjukkan bahwa sesquiterpena yang dihasilkan pada A. malaccensis lebih lengkap dan mengandung agarospirol serta jinkohol yang lebih tinggi dibanding A. agallocha asal India. Analisis senyawa gaharu secara kualitatif dengan teknik kromatografi gas cair (GLC) di laboratorium BIOTROP menunjukkan bahwa tingkat wangi dan jumlah komponen kimia yang terbentuk pada A. malaccensis lebih tinggi daripada A. microcarpa dan A.crassna serta A. filaria (Rahayu, dkk., 2003). KLASIFIKASI GAHARU GAMBAR Klasifikasi gaharu dilakukan berdasarkan kelas, mutu dan spesifikasi berdasarkan kemauan konsumen didalam Negeri dan Luar Negeri maka, klasifikasi itu digunakan dengan tujuan untuk melakukan pemisahan dalam bentuk Chips / Serpihan, bentuk Teri, Kacang, dan Abuk. Klasifikasi tersebut dapat dilakukan antara lain: Abuk gaharu terdiri dari : Kemedangan terdiri dari : Gubal gaharu terdiri dari : Abuk gaharu Super, Abuk gaharu kemedangan A, Kacang, Abuk gaharu kemedangan TGC Kemedangan A, B, C, TGC, (BC), Kemedangan Putih, Teri Kacang (terapung). Double Super, Super A, Super B, Kacang, Teri A, Teri B, dan dan Sabah (tenggelam). IDENTIFIKASI MUTU Identifikasi mutu/kualitas gaharu sampai saat ini masih bersifat konvensional dan yaitu berdasarkan warna, aroma, dan bentuk. Setiap pengusaha lokal memilki keahlian khusus untuk melakukan sortiran terhadap klasifikasi maupun spesifikasi gaharu dan kemedangan. Prosedur klasifikasi gaharu dilakukan dengan prosedur sbb: a) Pertama-tama gaharu dituangkan secara hamparan pada lantai sehingga memudahkan untuk sortir berdasarkan klasifikasi. b) Petugas sortir dengan modal pengalaman minimal 5 tahun, mengambil posisi duduk pada hamparan gaharu kemudian dengan kepekaan mata serta kecepatan tangan melakukan identifikasi berdasarkan mutu dan kelas gaharu tersebut GAMBAR c) Sebagai seorang yang bertugas sortir gaharu berdasarkan pengamatan jenis dan identifikasi sering mengalami kendala didalam menentukan jenis dikaitkan dengan klasifikasi maupun pada tingkat penentuan spesifikasi gaharu. d) Hal ini disebabkan dalam satu potong gaharu baik berupa Chips maupun batangan bisa menemukan dua jenis dari spesifikasi lainnya sehingga pada tahap berikutnya harus dilakukan pemisahan kembali oleh orang lain yang mempunyai ahli menentukan kelas gaharu. e) Gubal gaharu dan kemedangan yang telah diproses selanjutnya dijemur untuk mengurangi dan menghilangkan kadar air pada masing-masing tempat yang berbeda antara lai GAMBAR Gubal gaharu dijemur dalam ruangan Yang terbuka, tidak langsung kena sinar panas matahari. Kemedangan dan Abuk gaharu dijemur pada pada halaman dengan cara hamparan lantai dan terkena sinar panas matahari. CIRI DAN KHAS MUTU Tabel 1. Persyaratan Mutu dan Gubal Gaharu NO KARAKTERISTIK M U T U DOUBLE SUPER SUPER A SUPER B 1 Bentuk - - - 2 Ukuran - - - 3 Warna Hitam merata Hitam kecokelatan Hitam kecokelatan 4 Kandungan Damar Wangi Tinggi Cukup Sedang 5 Serat Padat Padat Padat 6 Bobot Berat Agak berat Sedang 7 Aroma Agak kuat Kuat Sedang Tabel 2. Persyaratan mutu kemedangan NO KARAKTERSITIK M U T U SA’BAH A B C TGC PUTIH 1 Warna Cokelat kehitaman Cokelat bergaris hitam Cokelat bergaris putih Kecokelatan bergaris putih tipis Kecokelatan bergaris putih lebar Putih keabuan garis hitam tipis 2 Kandungan Damar Wangi Tinggi Cukup Sedang Sedang Sedang Sedang 3 Serat Agak padat Agak padat Agak padat Kurang padat Kurang padat Jarang 4 Bobot Agak berat Agak berat Agak berat Agak berat Ringan Ringan 5 Aroma (dibakar) Agak kuat Agak kuat Agak kuat Agak kuat Kurang kuat Kurang kuat Tabel 3. Persyaratan mutu Abu gaharu untuk gubal dan kemedangan STRUKTUR MUTU FISIK GAHARU Pengambilan gaharu dan kemedangan dari hutan penghasil gaharu pada mulanya dilakukan secara acakan atau campuran sehingga bagi seorang pengusaha harus memiliki karyawan yang mempunyai keahlian dalam melakukan pemisahan baik bentuknya maupun fisik dan aromanya. Pelaksanaan pemisahan itu dilakukan secara kasat mata atau visual dengan lebih mengutamakan warna dan besar kecil gaharu tersebut. Hal tersebut dimaksud agar dalam pembersihan gaharu dapat dikelompokan berdasarkan warna jenis gaharu yang di inginkan. Penetapan jenis kayu gaharu baik gubal maupun kemedangan dapat dilakukan dengan memeriksa ciri khas kayu, dan berat / ringan kayu gaharu dengan cara penimbangan dengan menggunakan satuan Kilo Gram (Kg). CARA PEMISAHAN MUTU Bagi karyawan yang telah memilki dalam cara menilai kayu gaharu baik gubal dan kemedangan selalu berpatokan pada ciri khas kayu gaharu yang meliputi: ukuran, warna, bentuk. serat. bobot dan aroma kayu gaharu yang diuji sedangkan untuk abuk cukup melihat warma dan aroma. Penilaian terhadap ciri khas kandungan gaharu dilakukan dengan cara memotong atau membakar kayu gaharu untuk mengetahui aroma yang dikeluarkan oleh gaharu apakah aroma wangi tersebut kuat atau lemah. JENIS-JENIS POHON GAHARU Gaharu termasuk family Thymelaeaceae yang terdiri atas 4 sub famili: 1) Gonystyloideae (mis. Gonystyllus spp.); 2) Aquilarioideae (mis. Aquilaria spp.); 3) Thymelaeoideae (mis. Enkleia spp. dan Wikstroemia spp.); dan 4) Gilgiodaphnoideae (tidak ditemukan di Malaysia dan Indonesia). Di Indonesia terdapat 11 jenis kayu penghasil gaharu (Hou 1960; Sidiyasa 1986) yakni: 1. Aetoxylon sympetalum (Steen & Airy Show), terdapat di Kalimantan Barat dan Serawak (nama lokal: kayu bidorok, kayu laka, garu buaya, garu laka, melabayan (Kalimantan Barat), dan ramin batu (Serawak). 2. Aquilaria malaccensis Lamk. terdapat di India, Burma, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan dan Filipina (nama lokal: alim (Batak), gaharu, halim (Lampung), karas, mengkaras). 3. Aquilaria hirta Ridley, terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, Riau, Lingga, Nama lokal: karas (Sumatera), kayu chandan (M). 4. Aquilaria microcarpa Baill. terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera (Tapanuli, Palembang, Lampung) pulau Bangka & Belitung dan Kalimantan, Nama lokal: tengkaras (M), hepang (Bangka), karas/sigi-sigi (Dayak). 5. Aquilaria beccariana van Tiegh. terdapat di Sumatera (Palembang), Semenanjung Malaya dan Kalimantan. Nama lokal: Merkaras puti (Sumatera), tanduk/garu (Kalimantan). 6. Aquilaria filaria (Oken) Nerr, terdapat di Filipina, Maluku (Morotai, Ceram dan Ambon) dan Irianjaya (Sorong). Nama lokal: Age (Sorong), bokuin (Morotai), lason (Ceram). 7. Enkleia malaccensis Griff. terdapat di kepulauan Andaman, Burma, Indochina, Sumatera, Kalimantan. Nama lokal: terap akar, termentak akar (Sumatera), akar diau, akar garu (Kalimantan), akar karek hitam, garu buaya (Semenanjung Malaya). 8. Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz, terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, Bangka, Kalimantan, Serawak. Nama lokal: kayu minyak, geronggang, gaharu buaya, pulai miang, lapis kulit (Sumatera), balun kulit (Riau), kayu bulu, garu anteru, menameng (Bangka); medang, medang karau, ramin siriangun (Kalimantan). 9. G. macrophyllus (Miq.) Airy Show, terdapat di kepulauan Nicobar, Semenanjung Malaya, Jawa Barat, Tengah, dan Timur, Nusa Tenggara. Nama lokal: batu raja, garu pinang bae, medang ramuan, sirantik kuning (Sumatera), garu hideung, garu kapas, ki laba (Jawa Barat), garu betul, garu cempaka, garu buaya, medang karu, ramin (Kalimantan), Nio (Talaud),bunta, mengerai, ruwala, udi makiri (Maluku). 10. Wikstroemia polyantha Merr. terdapat di Malaysia, Indonesia, Australia, Melanesia, Polynesia. Nama lokal: layak (Kalimantan Selatan ), Chandan pelandok (Malaysia). 11. W. tenuiramis Miq., terdapat di Sumatera, Bangka, Kalimantan, Serawak. Nama lokal: kayu linggau (Sumatera), menameng, tentenak, tindat (Bangka). PEMASARAN GAHARU Gaharu merupakan komoditi ekspor. Jumlah ekspor gaharu yang tercatat BPS dari Indonesia pada tahun 1985 mencapai 1487 ton, namun sejak tahun 1990 sampai tahun 1994 menurun drastis yaitu hanya 300 ton/tahun (Departemen Kehutanan 1988, Oetomo 1995). Data terakhir menunjukkan bahwa perburuan gaharu tinggal terisa di hutan alam propinsi Aceh dan Irian Jaya. A. malaccensis sendiri sudah sangat sulit ditemukan di hutan alam, sehingga pada konferensi CITES (Centre for Internacional Trade on Endanger Species) Nopember, 1994 di Florida, USA dimasukkan dalam Appendix II CITES, yaitu sebagai jenis pohon terancam punah (Ditjen PHPA, 1995). Tahun 1995 ekspor gaharu dari Indonesia tidak bisa mencapai kuota CITES lagi yaitu 250 ton (Temu Pakar Gaharu ke dua di Mataram, 1996). Pada temu pakar gaharu, 2002 di Jambi diketahui bahwa sejak tahun 2002-2002 Indonesia hanya mampu mengekspor sebanyak 30 ton saja. Hasil ini akan terus menurun karena luas hutan alam dan tegakan pohon gaharu semakin berkurang. Oleh sebab itu upaya peningkatan produksi gubal gaharu secara lestari hanya dapat dicapai melalui upaya konservasi dan budidaya gaharu. Gaharu yang dihasilkan melalui budidaya tidak terkena syarat “kuota CITESâ€Â berbeda dengan yang dipanen dari hutan alam. Untuk itu setiap pengusaha (masyarakat) yang mengupayakan budidaya gaharu perlu melaporkan luas, jumlah pohon dan nama species ke Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Lembaga BKSDA, Departemen Kehutanan akan mengeluarkan sertifikat “Usaha budidaya gaharuâ€Â, sehingga produk gaharu yang dihasilkan bebas dari berbagai macam iuran seperti Iuran Hasil Hutan (IHH), Cites dll. ³ Negara – negara tujuan ekspor Negara-negara di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Singapore, Taiwan, Jepang, Malaysia. PELUANG BISNIS GUBAL GAHARU Pengguna produk gubal gaharu di dunia adalah meliputi negara-negara Timur Tengah, India, China, Korea, Jepang, serta Eropa yang penduduknya berjumlah lebih dari tiga milyar. Yamada (1995) memperkirakan sebanyak 2000 ton/tahun memenuhi pusat perdagangan gaharu di Singapura. Gaharu tersebut 70% berasal dari Indonesia dan 30% dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Jika satu pohon gaharu hasil budidaya menghasilkan 10 kg gaharu (semua kelas), maka diperlukan pemanenan 200.000 pohon setiap tahun. Indonesia harus mempertahankan daya saing ekspor gaharunya, terutama untuk species A. malaccensis yang asli dan hanya bisa tumbuh di Indonesia dan Malaysia. Partisipasi secara terpadu antara Pemerintah sebagai fasilisator, Masyarakat sebagai pelaku dan Ilmuan sebagai penyedia teknologi diharapkan minimal mampu mempertahankan Indonesia sebagai negara pengekspor gaharu terbesar dunia. Produk gaharu, selain untuk ekspor diharapkan juga dapat dikonsumsi masyarakat Indonesia seperti penggunaan dalam obat-obatan alamiah serta kosmetika. Ketersediaan gaharu secara berkesinambungan akan membuka peluang berkembangnya industri obat-obatan dan kosmetika seperti sabun, lotion, parfum dll. Peningkatan produksi gaharu harus dilakukan melalui pembangunan hutan industri gaharu, hutan rakyat, baik monokultur maupun sistem tumpang sari (campuran) atau bisa juga menggunakan pekarangan rumah, dimana sekaligus berfungsi sebagai penghijauan. Hasil produksi gaharu dengan bantuan rekayasa teknologi diperkiraan menghasilkan 1-2 kg gaharu kelas menengah dan 10 kg kelas kemedangan per pohon setelah berumur 10 tahun. Gubal gaharu yang memiliki harga 2- 5 juta/kg dapat dijual secara langsung sedangkan kemedangan ditingkatkan nilai jualnya dengan cara disuling. Oleh sebab itu budidaya gaharu untuk menghasilkan gubal gaharu secara lestari menjadi salah satu pilihan yang tepat dalam usaha agrobisnis. BUDIDAYA GAHARU. Budidaya gaharu terdiri dari dua tahap pekerjaan. Tahap pertama yaitu tahap penanaman yang dimulai dari pemilihan species komersial yang sesuai dengan lahan, sistem olah tanah yang tepat dan pemeliharaan pembesaran volume batang sampai mencapai tahap generatif. Tahap kedua adalah bioproses gaharu yaitu penginduksian gubal gaharu. Uraian teknis usaha budidaya gaharu akan disampaikan secara ringkas sbb: 1. Pemilihan species, Penanaman, dan Pemeliharaan tanaman a. Pemilihan Species (Bibit). Species tanaman gaharu yang dianjurkan untuk dibudidayakan adalah penghasil gubal gaharu komersial yaitu Aquilaria malaccensis, A hirta, A microcarpa, A beccariana, A. filaria, Gyrinops versteegii (asli Indonesia) serta A. crassna (asal Kalimnatan ) Pemilihan bibit gaharu disarankan juga mengacu pada species-species lokal yang telah terbukti memiliki sifat turunan (genetik) lebih adaptif dengan lingkungan setempat misalnya untuk daerah dataran rendah di pulau pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan dapat diupayakan tanaman gaharu A. malaccensis, A. hirta, A. microcarpa, A. beccariana serta A. crassna. Sedangkan untuk Indonesia bagian Timur dapat dimulai dengan konservasi dan budidaya A. filaria, Gyrinops verstegii meskipun selanjutnya dapat dicoba species-species lainnya. Sampai saat ini usaha budidaya gaharu A. malaccensis, A. microcarpa, Idan A. crassna dalam skala kecil sudah mulai dilakukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Riau (Situmorang, 2000). Semua species diatas terbukti dapat tumbuh baik pada areal tersebut. Budidaya Gyrinops versteegii di Nusa Tenggara Barat bahkan sudah mencapai ratusan hektar (Parman, 1996) Pengadaan bibit bisa dilakukan melalui beberapa metode seperti biji, pencarian anakan liar di hutan alam, pengadaan kebun pangkas (perbanyakan melalui stek), serta Kultur jaringan (Situmorang, 1988). b. Lokasi Penanaman. Di hutan alam tanaman gaharu ditemukan tumbuh mulai dari dataran rendah, bukit dan sampai pegunungan dengan ketinggian 750 m dari permukaan laut. Uji lapang beberapa species gaharu seperti A. malaccensis, A. microcarpa, A. crassna, dan A. filaria telah dilakukan sejak tahun 1997 untuk mengetahui tempat tumbuh gaharu yang paling baik. Penanam dilakukan di Pekanbaru dan Lampung (50 m. dpl), Bogor (300 m. dpl), Sukabumi (600 m. dpl) serta Manado (700 m. dpl). Sistem penanaman dapat dilakukan secara monokultur maupun tumpang sari atau sistem campuran dengan pohon-pohon keras lainnya. Jenis-jenis tanaman keras yang dapat digunakan sebagai campuran yaitu durian, rambutan, karet, mahoni, jati, sengon, jarak dll yang sebelumnya sudah ada dilahan tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua species gaharu di atas dapat tumbuh pada semua lokasi yaitu mulai dari dataran rendah yaitu 50 m. dpl sampai dataran tinggi yaitu 700 m. dpl. Tanaman gaharu tumbuh lebih cepat pada lokasi yang memiliki naungan. Tanaman gaharu A. malaccensis dan A. microcarpa memiliki percepatan pertumbuhan yang lebih lambat dibanding A. crassna dan A. filaria. A. crassna dan A. filaria memiliki percepatan pertumbuhan sekitar dua kali lipat lebih besar dibanding A. malaccensis dan A. microcarpa. Dari hasil uji lapang diatas dapat disimpulkan bahwa penanaman gaharu sebaiknya dilakukan dibawah naungan minimal sampai umur 3 tahun. Kalaupun dilakukan secara monokultur, harus menggunakan pelindung, sehingga cahaya matahari yang terkena tanaman hanya sekitar 50%. Hasil pengamatan di pulau Sumatera dan Jawa menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman gaharu lebih cepat bila ditanam dibawah tegakan Leguminoceae seperti Sengon, Petai, dan Gamal serta Dipterocarpaceae, Mahoni dll. Gambar Kebun gaharu Aquilaria malaccensis dan A. microarpa di Riau. c. Lubang dan Jarak Tanam Ukuran lubang yang dibutuhkan adalah: panjang x lebar x tinggi (dalam)= 40 x 40 x 40 cm. Setelah satu minggu, dimana lubang sudah beraerasi dengan udara luar, masukkan campuran serbuk kayu lapuk dan kompos dengan perbandingan 3 : 1 kedalam lubang sampai mencapai ¾ ukuran lubang. Kemudian setelah minimal 1 minggu (lebih lama lebih baik) berikutnya pohon gaharu, siap untuk ditanam. Sebelumnya tanah dan campuran serbuk kayu dan kompos diaduk rata pada lubang tanam. Waktu pembuatan lubang dilakukan sekurangnya 2 minggu sebelum penanaman. Jarak tanam antar tanaman adalah adalah 3 x 3 m, namun dapat juga ukuran 2.5 x 3 m sampai 2.5 x 2.5 m. Jika tanaman gaharu ditanam pada lahan yang sudah ditumbuhi tanaman lain, maka jarak tanaman gaharu minimal 3 m dari tanaman tersebut. d. Penanaman Penanaman bibit gaharu sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan di pagi hari sampai jam 11.00, dan dapat dilanjutkan pada jam 16.00 sore harinya. Bila diluar musim hujan, maka pada sekitar pohon dapat diberikan gel alkrosob yang berfungsi untuk menyimpan air dan menjaga kelembaban. Penyiraman diperlukan minimal sekali tiga hari. e. Pemeliharaan Pemupukan yang baik dapat dilakukan sekali 3 bulan, namun dapat juga setiap 6 atau 12 bulan dengan kompos sebanyak 3 kg melalui pendangiran dibawah canopy. Penggunaan pupuk kimia seperti NPK dan majemuk dapat juga ditambahkan setiap 3 bulan dengan dosis rendah (5 gr/tanaman) setelah tanaman berumur 1 tahun di lapang, kemudian dosisnya bertambah sesuai dengan besarnya batang tanaman. Hama tanaman gaharu yang perlu diperhatikan adalah kutu putih yang hidup dibawah permukaan daun bawah. Pada kondisi lembab hama tersebut sangat berbahaya. Oleh sebab itu perlu dilakukan penyemprotan pestisida seperti Tiodane, Decis, Reagent, dll mengarah pada permukaan bawah daun. Pembersihan gulma dapat dilakukan sekali 3 bulan atau pada saat dipandang perlu. Pemangkasan dilakukan pada umur 1 sampai 5 tahun, dengan memotong cabang bagian bawah dan menyisakan 4 sampai 10 cabang atas. Pada umur 3-5 tahun pucuk tanaman dipangkas agar tanaman tidak terlalu tinggi, tetapi cukup sekitar 5 m dengan kondisi batang yang relatif lebih besar. 2. Bioproses Gubal Gaharu Bioproses gubal gaharu sesuai dengan konsep patogenesis dilakukan dengan sistem terpadu yaitu penyuntikan "mikroba patogen" (agen penginduksi gubal gaharu) dan zat stressing (stressing agent) pada pohon gaharu (inang) berumur minimal 5 tahun (massa kayu sekitar 10 kg). Stressing agent adalah zat pengatur tumbuh yang dapat memanipulasi atau mengkondisikan sistem pertahanan pohon dalam kondisi yang rentan patogen. Perlakuan zat tersebut sebelum inokulasi patogen akan memungkinkan patogen dapat tumbuh, berkembangbiak serta berpenetrasi pada zona-zona kayu untuk tujuan menginduksi pembentukan gubal gaharu. Pohon gaharu (A. malaccensis dan A. microcarpa) berumur mulai 5 tahun di lapang diperlakukan dengan ke dua jenis agent secara bersama-sama. Setelah pohon terinfeksi dengan agen penginduksi gubal gaharu dan menyebar pada sebagian besar (70%) batang pohon, diperlukan penyuntikan stressing agent saja setiap 2 bulan untuk mempertahankan kondisi pohon yang rentan. Pengkondisian sifat ketahanan pohon gaharu yang rentan terhadap penyakit secara berkesinambungan (pohon tetap hidup tetapi merana) telah terbukti dapat mempercepat produksi gubal gaharu. Produksi gubal gaharu akan dapat diamati mulai terbentuk setelah satu bulan perlakuan. Pemanenan gubal gaharu akan dilakukan mulai dari 3, 4, 5 sampai waktu lebih lama setelah bioproses gaharu. Kualitas gubal gaharu yang dihasilkan sangat berbanding lurus (ditentukan) oleh lamanya bioproses artinya semakin lama bioproses semakin tinggi kualitas dan kuantitas gubal gaharu yang dihasilkan. Tahapan Bioproses tersebut adalah sbb: a. Pada batang utama tanaman berumur 5 sampai 6 tahun, secara ekonomis sudah siap untuk di induksi gubal gaharunya. b. Batang dilubangi dengan bor listrik dan mata bor ukuran kecil sekitar 5-8 mm mulai dari pangkal batang sampai mencapat ¾ dari tinggi pohon. Kedalaman lubang adalah sekitar 1/3 diameter batang untuk pohon budidaya yang berumur sekitar 7 tahun. Sedangkan untuk pohon-pohon besar berumur 10 tahun ke atas, kedalaman lubang adalah sekitar 15 cm. c. Jarak antar lubang di atur sekitar 20 cm kearah vertical (atas) dan 10 cm kearah horizontal (samping). Untuk mencapai kuantitas hasil gaharu yang lebih tinggi lubang pada setiap titik dibuat 3 buah dengan jarak sekitar 3 cm. Pembuatan lubang pada pangkal-pangkal cabang di atur sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan gubal gaharu berbentuk unik. d. Lubang-lubang kemudian dicucukkan besi panas yang membara, selama 1 menit. (Besi, ukuran dibawah mata bor. Misalnya bila mata bor 8mm, maka besi adalah 5-7 mm). e. Masukkan agen penginduksi gaharu. Cendawan bentuk padat dimasukkan dengan alat “cork borerâ€Â. Cendawan cair, diblender terlebih dahulu, kemudian disaring secara aseptik. Cendawan cair bisa dimasukkan dengan bantuan sprayer, suntikan atau pinset. f. lubang inokulasi tutup dengan lilin malam atau bahan lain seperti lem kayu untuk mencegah kontaminasi. g. Perlakuan inokulasi cendawan dilakukan sampai mencapai/melukai 70% dari bagian batang secara keseluruhan. h. Akhirnya permukaan batang yang dilukai dan dinokulasi ditutup dengan lembaran plastik dan diikat dengan karet. Notes: · Mata bor dan pisau dan peralatan yang digunakan perlu disterilisasi dengan cara membilas alkohol 70% dan pembakaran, atau air panas. Pemanenan Produksi gubal gaharu akan dapat diamati mulai terbentuk setelah satu bulan perlakuan. Akumulasi minyak gaharu (sesquiterpena) tersebut dimulai dengan warna kayu yang mencoklat dan tekstur keras, berbau wangi. Pemanenan gubal gaharu akan dilakukan mulai dari 2, 3, 4 sampai dengan 5 tahun setelah bioproses dengan cara menebang tanaman. Kualitas global gaharu yang dihasilkan sangat berbanding lurus (ditentukan) oleh lamanya bioproses artinya semakin lama bioproses semakin tinggi kuantitas dan kualitas gubal gaharu yang dihasilkan. Potongan-potongan gubal gaharu dipisah dari bagian kayu yang masih sehat, kemudian disortir menurut warna/kelasnya (super, AB, BC, C1, C2, dan lainnya). Untuk mengurangi kadar air, potongan gubal gaharu perlu dikeringkan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari. Hasil Panen Jumlah produksi gaharu umumnya bervariasi karena keragaman genetik pohon. Jumlah hasil produksi gaharu hasil budidaya setelah 10 tahun adalah sekitar 30 kg perpohon dengan berbagai kualitas. Sebanyak 10% (3 kg) berupa kelas atas, 30% kelas menengah, 40 % kemedangan, dan sisanya adalah abu gaharu. Daftar Pustaka Afifi, 1995. Analisa penyebab terjadinya gubal dan kemedangan pada tanaman gaharu. Makalah dipersentasikan pada Temu Pertama Pakar Gaharu, 20 Oktober 1995, Jakarta, 55p. Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan (terjemahan), Edisi ke tiga, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. 803p. Burkill, M.A., F.L.S. 1935. A dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula. Government of the Straits Settlements and Federated Malay States by the Crown Agents for the Colonies Mill bank, London, S.W. Vol. I (A - H). Departemen Kehutanan. 1988. Statistik Kehutanan Indonesia 1986/1987. Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan, Pusat Inventarisasi Hutan. Jakarta. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. 1995. Kerjasama Pemanfaatan Gaharu (Aquilaria malaccensis). Kertas Kerja Temu Pakar Gaharu I, Jakarta, Mei 1995. Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia Jilid III: Thymelaeaceae. p.1467-1469. Hou, D. 1960. Thymelaeaceae. Dalam Van Steenis, C. G.G.J. (ed.). Flora Malesiana. Gronigen: Walters-Noordhoff Publishing (1): 1-48. Ishihara, M., T. Tsuneya, M. Shiga and K. Uneyama. 1991. Three Sesquiterpenes from Agarwood. Phytochemistry 30(2):563-566. Kunoh H. 1990. Ultrastructure and Mobilization of ions near infection sites. In Ann. Rev. Phytopathol 28: 93-111. Nakanishi, T., E. Yamagata, K. Yoneda, and I. Miura. 1981. Jinkohol, a prezizane sesquiterpene alkohol from agarwood. Phytochemistry 20 (7): 1597-1599. Oetomo, H. 1995. Tinjauan Sepintas Terhadap Perdagangan Komoditi Gaharu di Singapura pada Bulan September 1995. Asosiasi Pengusaha Damar Gubal Gaharu dan Kemedangan Indonesia (APDGKI). Parman, T. Mulyaningsih dan M.Y.A. Rahman. 1996. Studi Etiologi Gubal Gaharu pada Tanaman Ketimunan (A. filaria). Temu Pakar Gaharu. Kanwil Dephut. Propinsi NTB, 11-12 April, 1996. Rahayu, G., Isnaini, Y., Situmorang, J. dan Umboh, M.I.J., 1998. Cendawan yang berasosiasi dengan gaharu (Aquilaria spp.) dari Indonesia. In. Proceedings of the Seminar Pertemuan Ilmiah Tahunan PERMI. Bandar Lampung, 16-18 Desember 1998, p.385-393. Salampessy, Faisal 2005. Standar Gaharu Indonesia. Pemanenan, mutu, jenis dan pemasaran. In Proceeding. Peluang dan Tantangan Pengembangan Gaharu di Indonesia, Bogor, 1-2 esember 2005. Sidiyasa, K. 1986. Jenis-jenis gaharu di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2 (1):7-16 Situmorang, J. 2000. Mikropropagasi Kayu Gaharu (Aquilaria spp.) Asal Riau Serta Identifikasi Sifat genetiknya Berdasarkan Analisa Isoenzim, Thesis S2, IPB, 58p Vanderplank, J.E. 1978. Genetic and Molecular Basis of Plant Pathogenesis. Springer.

PELUANG


Indonesia Bidik Target Ekspor Gaharu 1.000 Ton

Senin, 14 Maret 2011 | 14:55 WIB Besar Kecil Normal TEMPO/Eko Siswono Toyudho TEMPO Interaktif, Jakarta - Indonesia akan meningkatkan ekspor komoditas kayu gaharu mencapai 1.000 ton per tahun. Apalagi nilai jual gaharu saat ini sedang tinggi, yang bisa mencapai Rp 150 juta per kilogram. Saat ini ekspor gaharu dari Tanah Air baru 600 ton per tahun. Menurut Ketua Umum Asosiasi Gaharu Indonesia (Asgarin) Mashur MA, Indonesia baru mendapat kuota 673 ton untuk ekspor gaharu, yang banyak ditujukan ke negara-negara Timur Tengah, ditambah India, Jepang, Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat, dan Eropa. Perolehan devisa dari ekspor gaharu tahun lalu tercatat US$ 85,98 juta. Gaharu merupakan jenis flora berupa kayu beraroma wangi dari jenis pohon tropis Aquilaria spp., yang terinfeksi fungi. Gaharu biasanya digunakan untuk dupa, obat tradisional, parfum, dan aromatik kosmetik. Indonesia mengekspor produk gaharu berupa serpihan (chips), balok kayu (block), abuk (powder), dan minyak (oil). Komoditas gaharu Indonesia banyak berasal dari Kalimantan Timur, Papua, dan Sumatera. Kebutuhan dunia untuk gaharu sebesar 4.000 ton per tahun. Tingginya harga jual gaharu membuat Indonesia perlu mengembangkan teknologi pengembangan produksi gaharu. Saat ini Indonesia sedang menjajaki budi daya pohon gaharu yang dikerjakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan. "Sekarang hampir 98 persen produk gaharu dihasilkan dari alam. Ke depannya, gaharu ini bisa dihasilkan dari budi daya," kata Mashur usai acara peluncuran ekspor perdana komoditas gaharu Indonesia ke Cina, di kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Senin (14/3). Satu pohon dari hasil alam memproduksi gaharu 600 kilogram. Dengan budi daya, produksi gaharu diharapkan meningkat dua kali lipat. "Investasi budi daya gaharu miliaran rupiah dengan teknologi inokulasi. Untuk satu kali suntik dananya Rp 4 juta," kata Mashur. Dengan budidaya, dalam 2-3 tahun gaharu sudah bisa dipanen. Sementara itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan mulai hari ini, Indonesia mengirimkan ekspor gaharu ke Cina tanpa melalui negara perantara. Karena itu, dia yakin perolehan devisa negara bisa meningkat. "Kebutuhan Cina akan gaharu 500 ton per tahun, tapi kita baru bisa penuhi 200-300 ton," kata Zulkifli Selama ini ekspor Gaharu ke Cina tidak langsung tapi melalui perantara negara lain atau transit terlebih dahulu, umumnya ke Taiwan. ROSALINA

Sukseskan Penanaman 1 ( SATU ) Milyar Pohon Tahun 2010
S I A R A N P E R S Nomor: S.176/PIK-1/2010 SUKSESKAN PENANAMAN 1 MILYAR POHON TAHUN 2010 (ONE BILLION INDONESIAN TREES FOR THE WORLD) Upaya menumbuhkan budaya menanam di masyarakat dilakukan Kementerian Kehutanan melalui berbagai program penanaman. Tercatat program yang telah dilaksanakan antara lain Aksi Penanaman Serentak Indonesia (tahun 2007 dan 2008), Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (tahun 2007), Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (tahun 2008), serta Satu Orang Satu Pohon (One Man One Tree - tahun 2009). Keberhasilan seluruh program tersebut memacu pemerintah untuk meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan motto “Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Duniaâ€Â atau “One Billion Indonesian Trees for the Worldâ€Â. Penyediaan bibit direncanakan melalui anggaran DIPA BA tahun 2010 sebanyak 36 juta batang, partisipasi para pihak (swasta, BUMN, LSM, Pemda, lembaga donor) 300 juta batang, Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa 320 juta batang, Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai 300 juta batang, serta Hutan Rakyat Kemitraan sebanyak 50 juta batang. Melalui program Penanaman 1 Miliar Pohon Tahun 2010 ini Kementerian Kehutanan juga berupaya untuk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar hutan. Beberapa skema yang ditempuh Kementerian Kehutanan adalah melalui Hutan Kemasyarakatan, dimana tahun 2010 ini direncanakan seluas 210.749,64 ha, Hutan Rakyat Kemitraan seluas 203.833 ha, Hutan Desa seluas 10.310 ha, dan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat mencapai 480.303 ha. Total luas seluruh skema tersebut mencapai 905.195,64 ha. Apabila setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan ijin kelola rata-rata seluas 15 ha, dan melibatkan 4 orang sebagai tenaga kerja, maka sedikitnya 60.346 KK atau 241.384 tenaga kerja terserap dalam pengelolaan hutan ini. Apabila setiap hektare yang dikelola masyarakat dapat menghasilkan 200 m3 kayu dengan harga Rp. 500.000,00/m3, maka setiap hektare lahan dapat menghasilkan 100 juta rupiah, atau Rp 1,5 miliar setiap KK. Selain program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010, suksesnya program One Man One Tree tahun 2009 juga masih dapat ditingkatkan. Apabila pada tahun 2009, 1 orang menanam 1 pohon selama kurun waktu 1 tahun ditingkatkan menjadi 1 orang menanam 1 pohon setiap bulan selama kurun waktu 1 tahun, maka dalam waktu 1 tahun akan tertanam 2,76 miliar pohon! Secara individu, secara keluarga, kelompok, RT, RW, Desa, Kelurahan, Kecamatan, Wilayah, hingga Pemerintah Daerah harus diupayakan berpartisipasi melakukan penanaman pohon. Kita harus mulai dari diri sendiri, kita mulai dari lingkungan kita sendiri, kita mulai dari sekarang. Mari bersama kita sukseskan Penanaman 1 Milliar Pohon Tahun 2010, ONE BILLION INDONESIAN TREES FOR THE WORLD! Gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon, harus terus digelorakan dan dilakukan secara kontinyu pada setiap tahun masa tanam. Dalam waktu 5 sampai 10 tahun mendatang, bangsa Indonesia akan menikmati indahnya bumi Indonesia hijau berseri dengan masyarakatnya yang sejahtera, jauh dari bencana. Jakarta, 19 Maret 2010 Kepala Pusat Informasi Kehutanan, ttd. Masyhud

EXSPOR GAHARU ? AGARWOOD KE CINA TAMPA PERANTARA

Ekspor Gaharu ke Cina, Tanpa Perantara agar wood, gaharu Jember, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Gaharu Indonesia (Gaharin) akan mengekspor komoditi kayu ke China tanpa perantara untuk pertama kalinya tahun 2011 ini. Menurut Ketua Umum Gaharu, Mashur MA, selama ini Indonesia harus mengekspor kayu gaharu melalui perantara negara lain sebelum sampai ke China karena pemerintah China belum membuka pintu ekspor dari Indonesia masuk ke daratan China. Namun, tambahnya, setelah para eksportir Indonesia mengurus izin ekspor ke sana, akhirnya tahun ini Indonesia bisa langsung ekspor gaharu ke China tanpa perantara. Kayu Gaharu tidak banyak dikonsumsi di dalam negeri disebabkan harganya yang mahal. Hal ini membuat para pengusaha kayu gaharu lebih memilih mengekspor ke pasar Internasional, sebab permintaan pasar internasional lebih tinggi. Sementara itu, Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan mengatakan, sebelum mengekspor ke China, selama ini Indonesia telah mengekspor Kayu GAharu tersebut ke beberapa Negara, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Singapura, Hongkong, Jepang, Amerika dan seluruh benua Eropa. Dari beberapa negara tersebut kontribusi ekspor terbesar ke wilayah Timur Tengah sebesar 60 persen hingga 70 persen. Tetapi dengan adanya permintaan yang cukup besar ke Asia, maka posisi Timur Tengah akan tergeser oleh China. Zulkifli Hasan Menambahkan, beberapa keuntungan juga didapat Indonesia dengan di impornya kayu Gaharu ke China. Indonesia dan China ada dua keuntungan. Yang pertama tentu nilai peluang perdagangan kita akan meningkat, yang kedua petani-petani Gaharu kita mendapatkan harga yang bagus, harganya tinggi karena tidak diambil oleh pihak lain. Sedangkan pihak RRC juga mendapat harga yang bagus karena harganya yang murah,â€Âungkapnya. Lebih lanjut, Zulkifli menjelaskan, Harga jual kayu gaharu ke pasar Internasional, terutama ke China dapat mencapai 400 juta rupiah per kilogram, sedangkan untuk pasar domestik dihargai 100 juta rupiah per kg. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menuturkan meskipun ekspor gaharu terbilang tinggi, tapi pihaknya tetap diperlukan budidaya untuk melestarikan kayu gaharu. Sebagian besar ekspor kayu gaharu berasal dari hutan di Kalimantan. Oleh karena itu, budidaya kayu gaharu harus tetap dijalankan, apalagi lahan hutan Indonesia semakin menipis. Sementara itu, selama lima tahun terakhir ekspor kayu gaharu mencapai 170 ton hingga 573 ton. Bahkan, pada tahun 2010 ekspor kayu Gaharu mencapai 700 ton dengan nilai ekspor 80 juta US$. Dan Setelah ekspor langsung ke China ini resmi dibuka, permintaan kayu dari China sudah mencapai 500 ton untuk tahun ini.Whyd-Ike

Jarak Tanam Antar Pohon Gaharu

Budi daya tanaman gaharu sudah mulai dilakukan di beberapa tempat, dan menunjukkan prospek yang sangat baik.  Pengelolaan tanamannya tidak berbeda dengan tanaman lainnya.  Perawatan yang intensif dapat memacu pertumbuhan sehingga seperti di Vietnam sudah bisa dilakukan inokulasi pada tanaman usia 4 (empat) tahun.

Pada panduan pengelolaan tanaman gaharu, biasanya tanaman sudah siap untuk diinokuladi pada usia 6 tahun. Akan tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan usia untuk dapat menghasilkan gaharu.  Hal tersebut sangat tergantung dengan diameter tanaman. Sehingga pembuatan lubang inokulasi sejauh lebih kurang 1/3 diamter pohon secara spiral dan vertical dengan spasi yang bervariasi tidak menyebabkan pohon rentan patah. 
Perawatan tanaman dengan pemupukan bahan organik sangat disarankan. Sehingga pertumbuhan pohon bisa optimal dan menghasilkan performa batang yang baik. Pemangkasan cabang harus dilakukan untuk memacu pertumbuhan vertikal pohon sehingga diameter pohon dapat berkembang sesuai yang diharapkan dan menghasilkan jaringan batang yang siap untuk dilakukan inokulasi.
 
Pembuatan jarak tanam pada saat penanaman sangat bervariasi sesuai dengan pola yang akan dikembangkan.  Jarak tanam yang cukup rapat seperti 3×1 m cukup ideal untuk membuat kualitas tegakan vertikal.  Pelebaran jarak tanam dapat dikompensasi dengan perawatan tanaman yang lebih intensif.  Jarak yang cukup lebar seperti 6 x 2 m atau 3 x 3 m memberikan kesempatan untuk mengkombinasi dengan tanaman pertanian sebelum terjadi penutupan tajuk. Beberapa teknis yang dikenalkan bisa dengan monokultur atau dicampur dengan pohon pelindung. 


Investasi Pohon GAHARU

BUDIDAYA GAHARU SANGAT MENJANJIKAN
Masih banyak masyarakat di daerah yang belum tahu prospek bisnis berkebun pohon gaharu. Jika mendengar harga gaharu dengan kualitas king, telinga kita akan terperanjat. Perkilonya bisa mencapai Rp 50 juta. Syaratnya, petani harus rajin merawat dan menjaga pertumbuhan pohon gaharu tersebut. Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), sudah ada sekitar 28.000 bibit yang sudah ditanam. Ada di Desa Layuh dan Karatau Mandala Kecamatan Batu Benawa, Desa Kambat Kecamatan Pandawan, dan Desa Haur Gading Kecamatan Batang Alai Utara (BAU). Bibit yang sudah ditanam tersebut ada yang sudah berusia lima tahun. Salah satu pembudi daya, M Yani, saat ditemui menceritakan, sejak tahun 2002 dia sudah mulai tertarik dengan usaha budi daya gaharu ini. Sebagai masyarakat pencinta hutan, dia punya komitmen untuk memberdayakan masyarakat petani di daerah. “Saya punya harapan, petani kita memiliki masa depan yang baik. “Ya salah satunya mengembangkan budi daya gaharu ini,â€Â tandasnya. Selain itu, pihaknya akan memberikan bantuan berupa bibit, penyuntikan, dan pemasaran. Sedangkan system pembagian hasil, petani kebagian 40 % dan pihaknya 60%. “Petani cukup menyediakan lahan dan bisa merawat pohon gaharu tersebut agar bisa tumbuh subur,â€Â tandasnya. Sementara itu, Peneliti Gaharu dari Litbang Kehutanan Departemen Kehutanan RI, dr Erdy Santoso mengatakan, gaharu memiliki harga ekonomis yang tinggi serta dapat tumbuh di kawasan hutan tropis. Pengembangan pohon gaharu saat ini belum terlalu banyak dikenal. Hanya orang tertentu yang sudah mengembangkan dan menanam pohon ini. Padahal, keuntungan dari bisnis pohon gaharu dapat mengubah tingkat kesejahteraan warga hanya dalam waktu beberapa tahun. Selain dapat tumbuh di kawasan hutan, katanay pohon gaharu juga dapat tumbuh di pekarangan warga. Sehingga warga memiliki banyak kesempatan untuk menanam pohon yang menghasilkan getah wangi ini. Banyaknya getah yang dihasilkan dari pohon gaharu tergantung dari masa tanam dan panen pohon tersebut. Misalnya untuk usia tanam selama 6 sampai 8 tahun, setiap batang pohon mampu menghasilkan sekitar 2 kilogram getah gaharu,â€Â sebutnya. Sementara harga getah gaharu mencapai Rp 5-20 juta per kilogram. Harga itu tergantung dari jenis dan kualitas getah gaharu. Untuk getah gaharu yang memiliki kualitas rendah dan berwarna kuning laku dijual Rp5 juta per Kg, sedangkan untuk getah pohon gaharu yang berwarga hitam atau dengan kualitas baik laku dijual Rp15-20 juta/kg.
 
Analisa biaya dan keuntungan dari budidaya pohon penghasil gaharu, pada luasan tanah 240 m2 , jangka waktu 10 tahun. Dengan jarak tanam 3m X 3m luas tanah 240 m2 (asumsi 12 m X 20 m) cukup ideal ditanami gaharu sebanyak
25 batang. Berikut ini adalah perincian biaya dan keuntungan dari
budidaya pohon penghasil gaharu:


1. BIAYA
Biaya sendiri kita bedakan menjadi 3 yaitu: 
biaya tahap 1 (pengadaan bibit,penanaman dan perawatan di tahun pertama),
biaya tahap 2 (perawatan tanaman pada tahun ke-2 sampai tahun ke-7), 
biaya tahap 3 (inokulasi dan perawatan pasca inokulasi tahun ke-8 sampai tahun ke-10).


a. Biaya tahap 1 :
- pembelian bibit 25 btng @ Rp.15.000 = Rp. 375.000
- pupuk kandang 100 kg @ Rp.500 = Rp. 50.000
- pestisida (furadan,stiko,dll ) = Rp. 50.000
- tenaga penanaman = Rp. 200.000
- tenaga perawatan = Rp. 200.000
JUMLAH = Rp. 875.000,-


b. Biaya tahap 2 :
- pupuk kandang = Rp. 300.000
- pupuk pabrik = Rp. 300.000
- pestisida = Rp. 200.000
- tenaga perawatan = Rp. 500.000
- Biaya oprasional = Rp. 1.000.000
JUMLAH = Rp. 2.300.000


c. Biaya tahap 3:
- pembelian fusarium sp 25 botol @Rp.350.000 = Rp.4.375.000,- ( Subsidi 50% dari Perusahaan)
- tenaga inokulan = Rp. 2.500.000
- tenaga perawatan = Rp. 500.000 
- tenaga panen = Rp. 2.500.000
- lilin inokulan = Rp.100.000
JUMLAH = Rp.9.975.000,-


Jumlah a+b+c = Rp.13.150.000,-


2. PENERIMAAN
Dengan asumsi bahwa tingkat keberhasilan inokulasi adalah 80 %, dari 25 batang
tanaman cuma menghasilkan 20 batang pohon saja yang bisa dipanen. 
Satu batang, pohon gaharu dengan masa inokulasi 3 tahun menghasilkan rata-rata 2 kg gubal, 5 kg
kemedangan, dan 10 kg abu. 
Sehingga total yang dihasilkan dari 20 batang adalah 40 kg gubal, 100 kg kemedangan, dan 200 kg abu.


A. GUBAL 40 KG @ RP.5.000.000,- = RP. 200.000.000
B. KEMEDANGAN 100 KG @ RP.1.000.000 = RP. 100.000.000
C. ABU 200 KG @ RP.200.000 = RP. 40.000.000
JUMLAH = RP.340.000.000,-
Jumlah penerimaan diatas kami ambil dari data harga jual gaharu yang paling rendah,sedangkan gubal kualitas super harga bisa mencapai Rp.25.000.000/Kg


3. KEUNTUNGAN
PENERIMAAN – BIAYA = RP. 340.000.000- – RP. 13.150.000- = RP. 326.850.000
jadi di rata rata perpohon = Rp.326.850.000 : 25 = Rp.13.074.000,-

JUAL Bibit Gaharu Malaccensis

JUAL BIBIT GAHARU Jenis : A. malaccensis

POHON GAHARU ( AGARWOOD )
Pohon GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, sehingga sangat tepat apabila dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia Hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang. Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling untuk produksi minyak dengan harga yang sangat menjanjikan. Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri. Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea). Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 jt/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.
Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya. Sementara stok gaharu alam semakin menurun akibat ditebang terus-menerus tanpa diimbangi penanaman. Kebutuhan gaharu dunia terus meningkat sehubungan dengan semakin meningkatnya pemanfaatan gaharu terutama untuk obat-obatan di China. Kebutuhan obat merupakan kebutuhan pokok umat manusia, yang keberadaanya sangat dibutuhkan manusia.
Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil gaharu terbesar di dunia, namun saat ini potensinya menurun, bahkan gaharu sudah menjadi jenis yang langka ditemukan. Beberapa jenis pohon penghasil gaharu sebagian besar termasuk dalam famili Themeleaceae, terutama dari genus Aquilaria dan Gyrinops, yang dapat menghasilkan gubal gaharu dengan kualitas terbaik (harga tinggi). Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penanaman gaharu diperlukan pengetahuan yang memadai dalam bidang silvikultur (teknik budidaya) dan teknologi untuk mempercepat mendapatkan gubal gaharu (inokulasi). Tanpa mengetahui kedua masalah tersebut diatas, rasanya sulit untuk mendapatkan hasil gaharu yang memuaskan. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon gaharu menghasilkan gubal gaharu, hanya pohon yang terinfeksi cendawan tertentu saja yang dapat menghasilkan gubal gaharu. Sehingga secara alami pohon gaharu yang dapat menghasilkan gubal, prosentasenya sangat kecil, Oleh karena itu diperlukan teknologi inokulasi untuk mempercepat terbentuknya gubal gaharu. Ayo lestarikan hutan Indonesia demi generasi mendatang.

Apa itu agarwood (gaharu)?




Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, memiliki kandungan damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan pada pohon Aguilaria sp (Thymelaeaceae).

Harga 1 Batang Pohon Agarwood bisa mencapai beberapa ribu dollar USD per kilogram, makanya Pohon Ini disebut sebagai “POHON YANG SANGAT MAHAL DI DUNIA – ”MOST EXPENSIVE TREES IN THE WORLD
Setelah Penyulingan Harga Minyak Gaharu Bisa Mencapai Sekitar USD 5,000 ~ USD 10,000/kg dan Setelah Dibuat Menjadi Cairan Extract Harganya Mampu Mencapai Lebih Dari USD 30,000 atau Rp. 300.000.000,- / Liter.

 Manfaat Agarwood
  1. Aktivitas Kebudayaan - Islam, Budha, Hindu
  2. Perayaan Keagamaan - Kebanyakan di Negara Islam dan Arab
  3. Wangi Parfum - Wanginya Tahan Lama Banyak Diminati di Negara Eropa Seperti Daerah Yves Saint Laurent, Zeenat dan Amourage
  4. Aroma Terapi - Menyegarkan Tubuh, Perayaan dan Undangan
  5. Kecantikan - Sabun, Shampo Yang Harum Semerbak
  6. Obat & Kesehatan - Biasa Digunakan di Pengobatan Tradisional Khususnya Dinegara China dan Jepang
  7. Koleksi Pribadi - Untuk Ruangan Besar Khusus Eksklusif
Kebutuhan Agarwood Dunia

Kebutuhan dunia akan agarwood atau gaharu terus meningkat. Menurut statistik, Indonesia yang pada tahun 1995 menjadi pengexport gaharu yang cukup besar, kini nilai exportnya semakin menurun.
Mengingat permintaan dunia akan agarwood yang terus meningkat, maka proyek Pengembangan Agarwood sangat menguntungkan "Investment for Highest Profit"


Penanganan Bibit Gaharu Cabutan/Stump
Berikut ini kami sampaikan beberapa catatan untuk mendukung keberhasilan pemeliharaan bibit gaharu (Aquilaria malaccensi) yang berasal dari cabutan/stump (pengiriman dari tempat lain) :
  • Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus terlebih dahulu dikondisikan dengan penyungkupan. Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko kegagalan walaupun bedeng pemeliharaan telah diletakkan di bawah naungan sekalipun. Ikuti petunjuk teknis pembuatan sungkup sebagaimana yang kami lampirkan. Sungkup terbuat dari plastic dan plastic sungkup tersebut dapat diperoleh dari toko peralatan pertanian atau toko plastic.
  • Media tanam sebaiknya merupakan campuran: tanah : kompos : pasir (2:1:1)
  • Penyiraman pertama harus betul-betul jenuh air dan penyiraman berikutnya hanya dilakukan jika media tanam terlihat kering. Dalam penyiraman tersebut dihindari membuka sungkup ukuran besar, cukup hanya dimasuki selang/lobang kecil.
  • Peletakan sungkup/bedeng pemeliharaan harus di bawah naungan tegakan (sebaiknya rindang) sehingga tidak ada sinar matahari langsung dengan intensitas tinggi dan lama. Paranet/shading net 75% diperlukan jika naungan tegakan kurang dan sebaiknya diatas sungkup diberikan lagi jerami/ pelepah daun kelapa/sawit. Periksa jika terjadi kebocoran pada sungkup.
  • Hindari membuka-tutup sungkup cukup sering. Dengan pembuatan sungkup yang tepat, kondisi di dalam sungkup akan terlihat mengembun dan tidak kering. Jika terlalu sering membuka dan menutup sungkup bibit beresiko kematian.
  • Setelah 3-4 minggu, sungkup dibuka secara bertahap, dilarang membuka sungkup sekaligus. Contoh : hari pertama dibuka 0,5 meter, hari kedua 1 meter dan seterusnya. Jika dibuka sekaligus bibit beresiko kematian.
  • Setelah dikeluarkan dalam sungkup, bibit dipeliharan dibawah naungan paranet dan sebaiknya juga di bawah tegakan agar tercipta iklim yang baik bagi pertumbuhan bibit.
CONTOH BIBIT ANAKAN TANPA POLIBAG SEBELUM di SUNGKUP PLASTIK

CONTOH BIBIT ANAKAN YANG DI KASIH SUNGKUP PLASTIK

CONTOH BIBIT GAHARU POLIBAG SIAP TANAM


MEMPERCEPAT PRODUKSI GAHARU DENGAN TEKNOLOGI INOKULASI
Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini banyak diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Pemanfaatan gaharu sangat bervariasi dari bahan baku pembuatan dupa, parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, hingga bahan obat-obatan sebagai anti asmatik, anti mikrobia, stimulan kerja syaraf, dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan dan perdagangan yang masih mengandalkan alam, beberapa jenis tertentu pohon penghasil gaharu mulai langka dan telah masuk dalam appendix II CITES.

Mengantisipasi kemungkinan pubahnya pohon penghasil gaharu jenis-jenis langka sekaligus pemanfaatannya secara lestari. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi atau inokulasi.

Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budidaya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeliharaannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Penelitian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. Ujicoba telah dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga), dan Banten (Carita).

Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar taksonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis pohon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pembentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir pemanenan. Untuk saat ini, produksi gaharu buatan yang dipanen pada umur 1 tahun berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US$ 100 per kilogram.

Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut berbeda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal, Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena tidak didasari dengan kriteria yang jelas.




PAKET INVESTASI (SILAKAN PILIH)

1.Bibit anakan tanpa polibag isi: Harga Rp.6.000,-/pohon (min 100 pohon)
2.Bibit polibag siap tanam isi: Harga Rp17.000,-/pohon
3.Bibit paket investasi isi: 1 Pohon Harga Rp.350.000,- (Titip Tanam di kami)--->Bukti kepemilikan dapat sertifikat

 (SILAKAN PILIH PAKET DIATAS)
INFORMASI DAN KONSULTASI
0812-87932-777
0856-9281-9898
investasi pohon gaharu